0%
Kamis, 02 Maret 2023 09:14

Susi Air Rugi Besar Atas Penyanderaan Philips Marthen, Pilot Juga Ancam Resign

Editor : Azis Kuba
Pilot Susi Air, Philips Marthen disandera oleh KKB Papua
Pilot Susi Air, Philips Marthen disandera oleh KKB Papua

Susi beberkan bila kehilangan dua pesawat.

PORTALMEDIA.ID -- Penyanderaan yang menimpa Philips Marthen, seorang pilot asal Selandia Baru, telah berdampak besar pada maskapai Susi Air, baik secara finansial maupun dari segi kemanusiaan.

Telah tercatat selama 23 hari sejak pesawat yang dikemudikan Philips Marthen mendarat dan dibakar di Bandara Paro, Kabupaten Nduga, Papua oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua. Philips ditahan oleh kelompok tersebut.

Setelah kabar penyanderaannya tersebar, tim gabungan dari TNI dan Polri berusaha untuk mencari keberadaan dan kondisi Philips, meskipun tidak mudah karena KKB sering berpindah-pindah.

Baca Juga : Usai Bebas Dari OPM, Pemerintah Indonesia Resmi Serahkan Pilot Susi Air ke Negara Asalnya

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan serta pemilik Susi Air, Susi Pudjiastuti, mengakui bahwa penyanderaan Philips telah memberikan dampak besar terhadap perusahaannya, baik secara finansial maupun dari segi lainnya.

"Dari sisi bisnis, tentu ini sebuah kehilangan yang sangat besar. Tapi lebih menurut saya adalah humanity, kemanusiaan. Dan hak-hak masyarakat memenuhi kebutuhan pokoknya dan transportasi," ujar Susi dalam jumpa pers di SA Residence, Jakarta Timur, Rabu (1/3/2023) dilansir Kompascom.

Susi mengungkapkan bahwa ia mengenal Philips dengan cukup dekat. Sejak bergabung dengan Susi Air pada tahun 2012 hingga mengundurkan diri pada tahun 2015, Philips dianggap sebagai salah satu pilot terbaik di perusahaannya.

Baca Juga : OPM Bebaskan Pilot Susi Air Phillip Mehrtens Setelah 1,5 Tahun Disandera

Pada tahun 2020, saat pandemi Covid-19 melanda Indonesia, Philips kembali bergabung dengan Susi Air. Selain itu, Susi juga menjelaskan bahwa Philips menikah dengan seorang wanita asal Pangandaran, Jawa Barat yang sebelumnya merupakan mantan karyawan di perusahaan perikanan miliknya.

Oleh karena itu, Susi meragukan kabar yang menyebutkan bahwa Philips merupakan anggota dari KKB Papua.

"Itu sangat tidak benar, yang mengatakan Philips bersama dengan OPM atau apa, itu tidak," ucap Susi, melansir dari Antara.

Baca Juga : Susi Pudjiastuti Masuk Radar Calon Gubernur Usungan PDIP

Susi mengakui bahwa pasca-kejadian penyanderaan tersebut, banyak pilot di maskapainya yang menjadi khawatir untuk melayani penerbangan di wilayah pegunungan Papua. Susi beberkan bila kehilangan dua pesawat.

"Jadi kami mohon maaf, saya sebagai pemilik dan perintis Susi Air, pada 2006 kami masuk Papua, sekarang ini ya tidak bisa melayani lagi. Tentu banyak sebabnya, bukan cuma satu armada berkurang dengan dibakarnya pesawat kami. Tahun lalu kami kehilangan satu, sekarang satu," kata Susi.

"Yang kedua juga confident di antara pilot-pilot kita tidak memungkinkan adanya penerbangan lagi di wilayah pegunungan," sambungnya.

Baca Juga : Kapolda Papua Sebut Ada Pihak Sengaja Gagalkan Pembebasan Pilot Susi Air

Susi juga mengungkapkan bahwa banyak pilot Susi Air yang mengancam akan keluar dari pekerjaannya jika Philips tidak kembali dengan selamat tanpa syarat apapun.

"Jadi resignation juga akan tinggi, bila penyelesaian Kapten Philips ini tidak bisa baik," ucap Susi.

Menurut kuasa hukum Susi Air, Donal Fariz, akibat pembakaran pesawat yang dilakukan oleh KKB, perusahaan tersebut mengalami kerugian sebesar 2 juta dolar AS atau setara dengan Rp 30,4 miliar (dengan kurs Rp 15.238).

Baca Juga : Alasan Nasdem Pilih Susi Pudjiastuti Sebagai Calon Pendamping Anies: Bersih dan Berani

Pesawat yang dibakar oleh KKB adalah Pilatus Porter PC-6 Turbo, yang merupakan produksi dari Pilatus Aircraft. Saat ini, pesawat tersebut tidak lagi diproduksi.

"Nilai harga pesawat itu saja 2 juta dollar AS. Jadi harga pesawat itu 2 juta dollar AS, dan tidak ada lagi diproduksi baru sekarang, karena sudah close," ujar Donal.

Diakuinya bahwa memang bukan hal yang mudah untuk menghitung secara pasti kerugian yang ditimbulkan akibat insiden pembakaran pesawat dan hilangnya pilot tersebut. Namun, satu kerugian yang dapat disebutkan adalah tertundanya jadwal penerbangan.

"Susah saya menghitung ya. Yang jelas satu frekuensi penerbangan itu, nilai subsidi pemerintah itu lebih kurang Rp 14 juta-an satu flight per jam," jelasnya.

Terdapat laporan bahwa KKB meminta senjata dan amunisi sebagai syarat untuk mempertukarkan Philips yang disandera. Donal menegaskan, mustahil Susi Air memenuhi permintaan tebusan itu.

"Kalau minta syaratnya senjata, tidak mungkin minta senjata, paling pistol air yang Susi Air punya. Tidak punya kita senjata," ujar Donal.

KKB juga meminta tebusan dalam bentuk uang sebagai syarat untuk mempertukarkan Philips yang disandera. Namun, dikarenakan Susi Air sedang mengalami kerugian besar akibat pembakaran salah satu pesawatnya, kemungkinan besar perusahaan tersebut tidak akan memenuhi tuntutan tebusan tersebut.

"Tidak mungkin minta uang ke Susi Air di tengah pesawatnya dibakar," imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Redaksi Portal Media menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: redaksi@portalmedia.id atau Whatsapp 081395951236. Pastikan Anda mengirimkan foto sesuai isi laporan yang dikirimkan dalam bentuk landscape
Berikan Komentar

Populer