PORTALMEDIA.ID, JAKARTA - Rencana pemerintah untuk menggaet investor masuk ke dalam Ibu Kota Nusantara (IKN) kemungkinan cukup sulit. Pasalnya, para pelaku usaha masih ragu dengan mega proyek kebanggaan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tersebut.
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Perdagangan, Benny Soetrisno, mengatakan, isu logistik menjadi salah satu tantangan utama dalam berinvestasi di IKN. Investasi di IKN kemungkinan cukup menarik bagi para pelaku usaha jasa, namun tidak bagi para pelaku usaha yang bergerak di industri manufaktur.
"Ada masalah di logistik cost yang lebih mahal. Kalau manufaktur kan ada mobilisasi bahan baku dan lanjut mobilisasi produk jadinya, dimana pasarnya terbesar ada di Pulau Jawa-Bali dan Sumatra. Jadi harga akhir akan lebih mahal," ujar Benny, dikutip Minggu, 12 Maret 2023.
Baca Juga : Kadin RI Siap Perluas SPPG hingga 1.000 Titik di Seluruh Indonesia
Dia pun menyinggung masalah biaya produksi lain seperti tarif listrik dan air. Sementara populasi di IKN masih sedikit, dibandingkan pulau Jawa. Padahal, manufaktur sub sektor barang konsumsi mengandalkan pasar yang besar.
Masalah populasi yang masih sedikit, juga menjadi alasan para pengusaha ragu berinvestasi di IKN. Director Strategic Consultancy Knight Frank Indonesia, Sindiani Adinata, mengungkapkan, membangun mall atau pusat perbelanjaan di IKN pada awal proyek IKN masih terlalu berisiko. Sebab, populasi adalah penggerak utama permintaan.
Sementara, yang baru akan menempati IKN masih sebagian. Sehingga, untuk tahap awal, yang dibutuhkan IKN adalah keberadaan bisnis ritel pendukung, bukan mal.
Baca Juga : Media Inggris Soroti IKN Terancam Jadi 'Kota Hantu'
Namun, dia tak menampik keberadaan pertambangan di sekitar IKN bisa jadi peluang untuk menopang permintaan. Meski hanya musiman, seperti akhir pekan. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News