Celoteh Trump, Sebut Iran Tidak akan Menang Perang Lawan Israel
Perang telah menjatuhkan korban 224 orang tewas dan lebih dari 1.200 orang terluka di kubu Iran, sedangkan Israel melaporkan 24 orang tewas dan 592 orang
PORTALMEDIA.ID, MAKASSAR -- Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran tidak memenangkan perang dengan Israel. Ia kemudian menekankan Iran bersama harus segera kembali berunding "sebelum terlambat."
Perang Israel dan Iran memanas dengan Kementerian Kesehatan Iran melaporkan 224 orang tewas dan lebih dari 1.200 orang terluka. Sedangkan Israel melaporkan 24 orang tewas dan 592 orang terluka akibat serangan Iran.
"Mereka harus membuat kesepakatan, dan itu menyakitkan bagi kedua belah pihak," kata Trump saat hendak menghadiri KTT G7 di Kanada, seperti diberitakan AFP pada Senin (16/6).
Baca Juga : Runtuhkan Tradisi 165 Tahun, Uang Dolar AS Bakal Dibubuhi Tanda Tangan Donald Trump
"Menurut saya Iran tidak memenangkan perang ini, dan mereka harus berbicara, dan mereka harus berbicara segera, sebelum terlambat," ia menegaskan.
Negosiasi nuklir antara Teheran dan Washington yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu telah dibatalkan.
Hal itu disampaikan ketika konflik berujung perang meningkat dengan cepat meski ada seruan dari para pemimpin dunia untuk menghentikan serangan.
Baca Juga : Purbaya Soroti Lemahnya Hukum Internasional dalam Kasus Penangkapan Maduro
China mendesak Iran dan Israel untuk "segera" mengambil langkah-langkah untuk mengurangi ketegangan dan "mencegah kawasan itu jatuh ke dalam kekacauan yang lebih besar."
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan kepada mitranya dari Iran melalui panggilan telepon pada Senin (16/6) bahwa Ankara siap memainkan "peran fasilitator" untuk mengakhiri konflik.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan dia yakin "ada konsensus untuk de-eskalasi" di antara para pemimpin Kelompok Tujuh, yang bertemu di Kanada.
Baca Juga : China Nilai Serangan AS ke Venezuela Langgar Hukum Internasional
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan serangan Israel bertujuan menggagalkan ancaman "eksistensial" yang ditimbulkan program nuklir dan rudal Iran.
Kampanye pengeboman yang dahsyat dimulai saat Teheran dan AS terlibat dalam perundingan nuklir, yang telah dibatalkan, dan setelah peringatan dari pengawas nuklir PBB atas aktivitas atom Iran.
Rafael Grossi, kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA) PBB, mengatakan "tidak ada indikasi serangan fisik" pada bagian bawah tanah fasilitas pengayaan uranium Natanz Iran, dan tingkat radiasi di luar pabrik "pada tingkat normal".
Baca Juga : Trump Putuskan Afrika Selatan Tak Masuk Daftar Undangan G20 di Miami
IAEA sebelumnya mengatakan bahwa komponen utama di atas tanah dari situs nuklir Natanz Iran telah hancur.
Grossi mengatakan pada rapat dewan luar biasa badan PBB bahwa "keselamatan nuklir sedang dikompromikan" oleh konflik tersebut.(*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News