Iran Gelar Pertemuan Tingkat Tinggi dengan Rusia dan Tiongkok, Isu Nuklir Jadi Fokus Utama
Menurut Baqaei, pertemuan ini akan difokuskan pada sikap Iran terhadap tekanan internasional, khususnya menyangkut ketentuan dalam kesepakatan nuklir 2015 yang kini berada di ujung tanduk.
PORTALMEDIA.ID - Iran hari ini menjadi tuan rumah pertemuan trilateral dengan dua kekuatan besar dunia, Tiongkok dan Rusia, guna membahas perkembangan terbaru terkait program nuklirnya serta potensi pemulihan sanksi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Hal tersebut dikonfirmasi oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, Senin (21/7/2025).
Menurut Baqaei, pertemuan ini akan difokuskan pada sikap Iran terhadap tekanan internasional, khususnya menyangkut ketentuan dalam kesepakatan nuklir 2015 yang kini berada di ujung tanduk. Selain itu, Iran juga dijadwalkan menggelar perundingan terpisah dengan tiga negara Eropa—Inggris, Prancis, dan Jerman (E3)—di Istanbul pada Jumat 25 Juli mendatang.
“Perundingan dengan E3 akan berlangsung di tingkat wakil menteri luar negeri dan menjadi krusial untuk menentukan arah diplomasi ke depan,” ujar Baqaei, seraya menuding negara-negara Eropa sebagai pihak yang gagal menjalankan komitmen mereka dalam kesepakatan nuklir yang dikenal sebagai Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).
Baca Juga : Menlu Iran Ucapkan Idulfitri untuk Indonesia, Terima Kasih ke RI
Kesepakatan JCPOA yang dicapai pada 2015 antara Iran dan enam kekuatan dunia—AS, Inggris, Prancis, Rusia, Tiongkok, dan Jerman—pada dasarnya membatasi program nuklir Iran sebagai imbal balik dari pelonggaran sanksi internasional.
Namun perjanjian ini goyah sejak AS menarik diri secara sepihak pada 2018 di bawah pemerintahan Donald Trump, disertai pemberlakuan kembali sanksi ekonomi yang keras terhadap Iran.
Sejak saat itu, E3 menyatakan tetap mendukung kesepakatan, namun gagal menjalankan mekanisme ekonomi yang dapat menahan dampak sanksi AS. Banyak perusahaan Barat pun memilih angkat kaki dari Iran, memperparah kondisi ekonomi di negara tersebut.
Baca Juga : China Nilai Serangan AS ke Venezuela Langgar Hukum Internasional
Iran menyalahkan negara-negara Eropa karena dinilai tidak menjalankan kewajiban mereka, dan menyebut sikap pasif mereka sebagai bentuk pelanggaran atas kesepakatan JCPOA.
Sementara itu, ketegangan meningkat setelah E3 dan kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa mengadakan pembicaraan via telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada 17 Juli lalu. Ini adalah kontak pertama sejak insiden serangan udara Israel dan AS terhadap fasilitas nuklir Iran bulan Juni lalu.
E3 telah memperingatkan bahwa jika negosiasi tidak menunjukkan kemajuan berarti sebelum akhir Agustus, maka mereka akan menerapkan kembali sanksi PBB melalui mekanisme snapback. Mekanisme ini memungkinkan kembalinya sanksi internasional tanpa perlu persetujuan Dewan Keamanan PBB, bahkan sebelum masa berlaku resolusi dukungan JCPOA berakhir pada 18 Oktober.
Baca Juga : Beijing-Tokyo Memanas, 500 Ribu Tiket Penerbangan China ke Jepang Dibatalkan!
Menanggapi ancaman tersebut, Araghchi menyebut tindakan snapback sebagai pendekatan usang dan tidak berdasar secara moral maupun hukum. Ia juga menegaskan bahwa langkah Iran mengurangi komitmen nuklirnya dilakukan sesuai ketentuan JCPOA, sebagai respons atas ketidakpatuhan pihak Barat.
Dari sisi Eropa, seorang sumber diplomatik Jerman menyatakan pada Minggu (20/7) bahwa E3 masih berusaha mencari solusi diplomatik yang realistis dan dapat diverifikasi guna memastikan Iran tidak memperoleh senjata nuklir.
“Jerman, Prancis, dan Inggris terus menjalin kontak erat dengan Teheran untuk menemukan jalan keluar yang damai dan berkelanjutan,” ujar sumber tersebut.
Baca Juga : China Wajibkan Influencer Punya Ijazah-Sertifikat Buat Bikin Konten
Pertemuan di Teheran hari ini, serta perundingan lanjutan di Istanbul akhir pekan ini, akan menjadi ujian penting bagi masa depan diplomasi nuklir di kawasan, di tengah tekanan geopolitik yang semakin meningkat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News