Sepenggal Cerita Mariama, Belenggu Penyintas KDRT: Saya Korban, Saya Butuh Keadilan!

Penulis : Gita Oktaviola
Ilustrasi: istock

Mariama (40) seorang perempuan yang mencari keadilan dengan melaporkan perselingkuhan suaminya ke kepolisian. Ia melaporkan hal ini untuk mencari keadilan, setelah suaminya terlibat dalam kawin lari yang kemudian tak disangka justru mendapat dukungan dari sebagian besar warga desa Balumbungan, Bontoramba, Jeneponto.

PORTALMEDIA.ID, MAKASSAR - Mariama (40) seorang perempuan yang kini menjalani hidup sebagai tulang punggung keluarga. Peran ganda yang diembannya sebagai bentuk tanggung jawab menghidupi dua orang anak dan melunasi utang suami yang meninggalkannya.

Kisah ini dialami Mariama yang tinggal di Balumbungan, Bontoramba, Kabupaten Jeneponto. Ia adalah penyintas atau korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dipicu dari perselingkuhan suaminya.

Hingga pada akhirnya, Mariama memberanikan diri untuk melapor ke pihak berwajib tentang perselingkuhan suaminya, dengan perkara: Menikah tanpa izin dan atau perzinahan. Keberaniaan ini dilantangkan dengan pernyataan "Saya Korban, Saya butuh Keadilan."

Baca Juga : DP3A Makassar Edukasi Puluhan Shelter Warga Bahas Penguatan Terhadap Korban KDRT

Semuanya berawal di bulan Mei 2021 lalu, saat Saenal Nanggong (41) baru saja membeli gawai atau gadget baru. Perubahan sikap dari Saenal menyusul. 

Saenal kerap kali mengekspresikan rasa senangnya yang berlebihan saat melakukan sambungan telepon dengan seorang perempuan. Sejak saat itu, Mariama sering memperingati suaminya agar tidak menjalin komunikasi berlebihan kepada perempuan.

Kekhawatiran wajar muncul, kalau saja suatu saat, suaminya itu akan kepincut dan mengkhianati pernikahan yang telah dibangunnya bersama selama 12 tahun.

Baca Juga : Kasus Dugaan Perselingkuhan Eks Dandim Makassar Dinilai Mandek

Namun, perubahan sikap dari adanya gawai, juga disusul perubahan sikap di mana Saenal juga acuh dengan nasihat Mariama. Saenal kerap jengkel dan mengekspresikannya dengan marah, saat ditegur oleh sang istri. Saking jengkelnya, Saenal tak segan untuk berlaku kasar kepada Mariama.

Ekspresi Kemarahan: Tampar, Tendang dan Kata-kata Kasar

"Saya biasa ditampar, ditendang sampai dikata-katai (kata kasar) sama suamiku kalau marah, gara-gara kutegur teleponan dengan perempuan lain," ujar Mariama dengan logat bugis saat diwawancarai oleh portalmedia, awal pekan kemarin. 

Kehadiran orang ketiga membuat Mariama harus menjalani hari-hari yang menyedihkan. Peristiwa berulang hampir tiap hari ini, membuat Mariama harus bercucuran air mata hampir setiap hari pula. Ia bahkan terlihat lebih kurus dan tak bertenaga. Perlakuan Saenal kepadanya membuat mentalnya juga hampir terganggu.

Baca Juga : Hadiri Hut Jeneponto, Bupati Bantaeng Uji Nurdin Nilai Bumi Tuareta Berkesan

"Kadang saya gemetar kalau berhadapan atau mau tegur suamiku. Anakku juga kasihan kalau na liat ka' bertengkar dengan suamiku," lanjut Mariama masih dengan dialek khas Sulawesi Selatan.

Selang beberapa bulan, barulah terungkap perselingkuhan yang dilakukan Saenal dengan seorang tetangganya bernama Wana. Mariama mengatakan kalau perselingkuhan itu membuat orang ketiga (Wana) mengandung.

"Sering mi mau na gugurkan kandungannya itu perempuan. Tapi tidak bisa, makanya tambah besar perutnya," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berikan Komentar
Berita Terbaru