Menenun Asa di Tepian Matano: Kisah Anyaman Teduhu Melawan Kepunahan Tradisi

ist

Beberapa tahun lalu, masa depan anyaman Teduhu berada di titik nadir. Keterampilan warisan leluhur yang lahir di pesisir Danau Matano ini menghadapi ancaman nyata: ketiadaan regenerasi.

PORTALMEDIA – Di salah satu sudut Trans Studio Mall Makassar yang riuh, jemari Yulianti bergerak dengan ritme yang teratur. Di hadapannya, helai demi helai serat alami bertransformasi menjadi anyaman Teduhu yang elok dan bernilai estetika tinggi.

Bagi Yulianti, Ketua Kelompok Anyaman Teduhu dari Desa Nuha, Luwu Timur, pameran Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK Nasional ke-54 dan HUT Dewan Kreasi Nasional (Dekranas) ke-46 yang berlangsung pada 9–11 Juli 2026 ini bukan sekadar ajang pamer produk dagangan. Apa yang terpajang di stan PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) tersebut adalah sebuah manifesto: kisah tentang sebuah tradisi yang menolak punah di tengah gempuran zaman.

Ketika Tradisi Kehabisan Napas

Beberapa tahun lalu, masa depan anyaman Teduhu berada di titik nadir. Keterampilan warisan leluhur yang lahir di pesisir Danau Matano ini menghadapi ancaman nyata: ketiadaan regenerasi.

"Sebelumnya, hampir seluruh pengrajin anyaman di Desa Nuha adalah orang tua yang usianya di atas 45 tahun, bahkan banyak yang sudah sepuh," kenang Yulianti saat ditemui di sela-sela pameran. 

Saat pasar mulai melirik eksotisme anyaman ini dan permintaan melonjak, para pengrajin lokal justru kelimpangan. Keterbatasan fisik dan minimnya tenaga kerja membuat industri rumah tangga ini jalan di tempat. Di sisi lain, generasi muda cenderung memalingkan wajah dari kerajinan tangan, menganggapnya sebagai aktivitas masa lalu yang kurang menjanjikan. Tradisi ini perlahan kehabisan napas.

Melihat kerentanan tersebut, PT Vale hadir mengintervensi melalui Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM). Strateginya lugas namun cerdas: memotong rantai kesenjangan generasi dengan merangkul anak-anak muda di bawah usia 25 tahun.

"Kami melihat keterampilan ini mulai berkurang karena generasi muda kurang tertarik. Oleh karena itu, pelatihan intensif diberikan kepada anak-anak muda agar rantai keterampilan ini tidak terputus dan tetap lestari," jelas Endra Kusuma, Head of External Relations Regional and Growth PT Vale Indonesia, Jumat (10/7/26).

Hasilnya? Tangan-tangan muda kini mulai akrab dengan serat Teduhu. Keterbatasan SDM yang dulu menjadi momok produksi, kini berubah menjadi motor penggerak baru. "Alhamdulillah, pelatihan ini membuka lapangan pekerjaan baru yang segar bagi masyarakat sekitar," kata Yulianti tersenyum.

Dari Hutan Aren hingga Limbah Plastik

Semangat berinovasi ini menular ke desa-desa tetangga. Di ajang nasional tersebut, anyaman Teduhu dari Desa Nuha tidak tampil sendirian. Ada juga kerajinan Sampa Konao dari Desa Matano yang secara cerdas memanfaatkan pelepah pohon aren menjadi wadah artistik bernilai ekonomi. Tak ketinggalan, kelompok perempuan binaan lainnya turut memamerkan seni rajutan halus hingga produk upcycling berbahan dasar daur ulang limbah plastik.

Pendampingan yang diberikan PT Vale terbilang menyeluruh, dari hulu hingga ke hilir. Para pelaku usaha mikro ini tidak hanya diajari cara memproduksi barang yang rapi, tetapi juga dibekali ilmu manajemen bisnis modern, strategi branding, hingga cara membaca selera pasar nasional melalui pelatih-pelatih kompeten.

Kini, buah kerja keras itu mulai terlihat. Anyaman Teduhu yang dulu hanya dikenal di lingkup lokal, kini telah melanglang buana. "Paling jauh, produk kami sudah berhasil dikirim hingga ke Pulau Sumatera," ungkap Yulianti bangga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berikan Komentar
Berita Terbaru