Menabur Benih Keterampilan di Bumi Batara Guru: Ikhtiar Pendidikan Berkelanjutan PT Vale Lewat Politeknik Sorowako

Penulis : wiwi amaluddin
ist

Kurikulum kami memang memiliki kesesuaian tinggi dengan kebutuhan PT Vale, tetapi orientasi kami tidak boleh sempit. Kami menautkan kompetensi mahasiswa dengan ekosistem industri di Pulau Jawa, Kalimantan, Sumatra, hingga Papua. Mahasiswa harus memiliki daya saing yang mampu bertarung di tingkat nasional.

PORTALMEDIA - Derap langkah kaki para mahasiswa berseragam kerja membelah kabut tipis dan udara sejuk Sorowako pagi itu. Di sebuah sudut ruang bengkel praktik yang sarat dengan deru putaran mesin bubut serta aroma khas pelumas besi, puluhan anak muda tampak tekun menatap lembaran cetak biru teknik.

Kacamata pelindung terpasang rapat, tangan-tangan terampil mereka cekatan memegang jangka sorong dan mengoperasikan panel mekanik. Pemandangan ini bukanlah sekadar aktivitas perkuliahan biasa, melainkan denyut nadi dari sebuah ikhtiar panjang yang berakar kuat di Bumi Batara Guru: ikhtiar menyiapkan masa depan Luwu Timur yang mandiri, adaptif, dan berdaya saing tinggi, bahkan ketika cadangan nikel di perut bumi kelak telah tuntas ditambang.

Langkah strategis tersebut sesungguhnya telah ditabur sejak lebih dari tiga dekade silam, tepatnya pada tahun 1991. Fondasi pendidikan vokasi itu pertama kali diletakkan melalui pendirian Akademi Teknik Sorowako di bawah naungan PT Inco, yang dalam perjalanannya bertransformasi menjadi Politeknik Sorowako (Poliwako) dan kini terus dikawal dengan komitmen penuh oleh PT Vale Indonesia.

Kehadiran institusi ini tidak lahir secara kebetulan, melainkan berpijak pada kesadaran mendalam mengenai tanggung jawab moral industri ekstraktif terhadap keberlanjutan hidup masyarakat di kawasan operasionalnya. Bagi korporasi, keberadaan tambang tidak boleh hanya menyisakan jejak aktivitas pengerukan sumber daya alam, melainkan harus meninggalkan warisan peradaban paling berharga: mencetak sumber daya manusia (SDM) yang terdidik, terampil, dan berdikari.

Komitmen fundamental ini ditegaskan secara lugas oleh Ketua Yayasan Pendidikan Sorowako, Firman Fauzih. Dalam pandangannya, paradigma program keberlanjutan yang diusung bersama perseroan bukan sekadar kegiatan filantropi formalitas sesaat yang habis setelah program berakhir, melainkan sebuah rekayasa sosial jangka panjang yang bertumpu pada kemandirian komunitas lokal.

"Bagi kami bersama PT Vale, keberlanjutan bukan sekadar menjalankan program sesaat, melainkan proses pemberdayaan yang menumbuhkan kemandirian masyarakat dari potensi yang mereka miliki. Kami ingin tumbuh bersama masyarakat, memastikan bahwa kehadiran institusi pendidikan dan perusahaan memberikan nilai tambah jangka panjang, baik dari aspek sosial, ekonomi, maupun peningkatan kapasitas sumber daya manusianya," ungkap Firman.

Prinsip bertumbuh bersama tersebut diterjemahkan secara konkret di dalam ruang-ruang kelas dan laboratorium Poliwako. Direktur Politeknik Sorowako, Harjuma, S.S.T., M.T., menjelaskan bahwa kampus teknik ini memikul misi besar untuk membangun ketahanan ekonomi berbasis pengetahuan bagi masyarakat di wilayah pemberdayaan tambang. Kesadaran bahwa industri tambang memiliki masa kedaluwarsa menjadi lecutan utama untuk terus memompa kualitas pendidikan vokasi.

"Kita semua menyadari bahwa aktivitas penambangan PT Vale pasti memiliki batas masa aktif operasional. Harapan terbesar kami, sekolah ini akan tetap ada, berdiri kokoh, dan terus menjadi wadah berkelanjutan untuk mengembangkan kapasitas SDM lokal, khususnya bagi masyarakat di tiga daerah pemberdayaan maupun Luwu Timur secara umum, bahkan ketika aktivitas tambang sudah tidak ada lagi di Sorowako," ujar Harjuma dengan nada penuh optimisme saat ditemui Portalmedia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berikan Komentar
Berita Terbaru