Kronologi Krisis Sri Lanka, Presiden Setuju untuk Mundur 13 Juli Mendatang
Sri Lanka sedang dilanda krisis, kabar terbaru tersebar bahwa Presiden Gotabaya Rajapaksa bersedia mengundurkan diri pada 13 Juli mendatang. Persetujuan ini setelah rangkaian protes dilakukan warganya, terakhir dengan menduduki istana kepresidenan.
PORTALMEDIA.ID - Sri Lanka dihantam krisis politik dan ekonomi hebat. Pada Sabtu (9/7) Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe menyatakan kesiapannya untuk mundur.
Disusul dengan pernyataan Ketua Parlemen Sri Lanka Mahinda Abeywardana yang menyebut Presiden Gotabaya Rajapaksa setuju untuk mundur pada 13 Juli pekan depan.
Mundurnya dua pemimpin politik teratas di Sri Lanka tersebut dikarenakan demonstrasi yang semakin membara. Kediaman Rajapaksa di Kolombo diserbu demonstran. Bahkan kediaman Wickremesinghe dibakar massa yang marah.
Baca Juga : CGP Bantu Tangani Masalah Air Bersih di Makassar
Dilansir dari kumparan.com, demonstrasi dipicu krisis yang menimpa negara berpenduduk 22 juta orang itu. Sri Lanka dihantam krisis selama berbulan-bulan. Masyarakat dilaporkan kekurangan makanan, bahan bakar, pemadaman listrik yang kerap terjadi, hingga inflasi yang tinggi.
Sebagai catatan, Sri Lanka memiliki cadangan devisa mencapai USD 7,6 miliar pada akhir tahun 2019. Namun angka tersebut turun menjadi USD 2,3 miliar pada April 2022 dan devisa yang dapat digunakan hanya sekitar USD 300 juta. Angkanya terus turun hingga saat ini.
Penyebab krisis ekonomi Sri Lanka dipicu banyak faktor. Mulai dari kronisme di pemerintahan Perdana Menteri Mahinda Rajapaksa, yang terpilih lagi di tahun 2020 lalu, hingga berbagai masalah ekonomi. Seperti kebijakan populis yang menjerumuskan Sri Lanka ke dalam krisis, diperparah dengan dampak pandemi COVID-19.
Baca Juga : Sebut Dunia Krisis Finansial, Jokowi Bangga Indonesia Masih di Lirik Investor Global
Kronisme pemerintahan Mahinda Rajapaksa merambah berbagai bidang. Dia sendiri merupakan kakak dari Presiden Sri Lanka, Gotabaya Rajapaksa. Di kabinet, juga ada kakak laki-lakinya, Chamal, dan keponakan tertuanya, Namal.
Berikut kronologi krisis di Sri Lanka dikutip dari AFP:
- 1 April Memasuki Keadaan Darurat
Rajapaksa mengumumkan keadaan darurat sementara, memberikan kewenangan besar kepada pasukan keamanan untuk menangkap dan menahan tersangka, setelah serentetan protes yang terjadi di Sri Lanka.
- 3 April Kabinet Mengundurkan Diri
Baca Juga : PBB: Anak-anak di Sri Lanka Makin Terancam Tertidur dalam Keadaan Kelaparan
Hampir semua kabinet Sri Lanka mengundurkan diri, menyisakan Rajapaksa sebagai presiden dan saudaranya Mahinda selaku perdana menteri. Tercatat 26 menteri mundur saat itu. Gubernur bank sentral Sri Lanka mundur sehari setelahnya.
- 5 April: Presiden Kehilangan Dukungan
Permasalahan di pemerintahan Sri Lanka semakin menjadi. Setelah pengunduran diri massal para menteri, Menteri Keuangan Ali Sabry yang baru diangkat sehari turut mundur.
Rajapaksa kehilangan mayoritas dukungan di parlemen setelah koalisi pendukungnya turut menyuarakan desakan mundur.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News