"PKB kan lumayan kuat secara kepertaian 9,6 persen, tapi belum dikonversi menjadi suara Muhaimin sebagai capres," jelas Adi.
Menurut dia, dengan data itu, memperlihatkan basis pemilih PKB tidak otomatis mendukung Cak Imin untuk 2024. Namun, masih ada waktu kurang dari dua tahun, agar elite PKB bisa mengkonversi suara PKB ikut mengerek elektabilitas Cak Imin.
"Artinya apa? Prabowo Subianto yang saat ini 20 persen, Muhaimin Iskandar misalnya jadi 9,6 persen karena mendapat insentif dari suara PKB, kan lumayan disandingkan untuk Pilpres," ujar Adi.
Baca Juga : Situasi Dalam Negeri Memanas, Prabowo Batalkan ke China
Meski demikian, Adi menambahkan dalam koalisi yang mengusung pasangan capres-cawapres itu mesti ada chemistry politik. Dia mengibaratkan hal itu seperti tahap pertama untuk menuju pelaminan politik. Pun, dia menekankan dalam politik menuju 2024, dinamika penjajakan koalisi masih bisa berubah termasuk antara Gerindra-PKB.
Elite Gerindra dan PKB memberikan sinyal menyiapkan koalisi menuju Pilpres 2024 dengan menggelar pertemuan beberapa kali belakangan ini. Dari PKB menyebut koalisi dua parpol itu dinamakan Kebangkitan Indonesia Raya hingga Silaturahmi Indonesia Raya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News