PORTALMEDIA.ID,MAKASSAR-Ilham Fathul Kiram ialah wisudawan muda dari Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin (Unhas). Ia adalah satu dari delapan lulusan tercepat di angkatan 2018 jurusan PWK yang total mahasiswanya berjumlah 75.
Ditengah alat bantu kursi roda, ia mampu lebih cepat dari mahasiswa lainnya menyelesaikan pendidikan strata satu, dan resmi menyandang gelar seorang sarjana pada 27 Juli 2022 lalu. Ilham meraih IPK 3,86 dan mendapatkan predikat sangat memuaskan dengan nilai tugas akhir 90,75.
Prestasi gemilang itu bisa ia capai walai Ilham adalah seorang difabel daksa. Dimana ia memiliki kaki yang Ilham sebut sebagai suatu kelemahan, sebab dalam menjalankan aktivitas hari-hari, Ilham harus menggunakan alat bantu kursi roda.
Baca Juga : KALLA Mulai Implementasikan ESG Pilar Sosial, Terima 7 Peserta Magang Disabilitas
Termasuk selama kurang lebih tiga tahun ia bolak-balik dari rumah ke kampus, alat itu tetap ia butuhkan saat mengikuti perkuliahan di kampus.
"Biasa cuma diantar sama kakak ke kampus, nanti teman yang di kampus yang (bantu) dorong (saya dengan kursi roda)," ungkapnya ketika dihubungi Portal Media, Selasa (2/8/2022).
Tambahnya, ia juga membocorkan alasan mengapa ingin tetap menimba ilmu hingga ke jenjang perguruan tinggi. "Mungkin ibu yang selalu dorong. Ibu bilang walaupun ada kekurangan pasti semua hal tetap bisa untuk dilakukan," lanjutnya.
Baca Juga : Danny-FKUB Tekankan Pentingnya Toleransi dan Perlindungan Anak, Perempuan serta Disabilitas
"Mungkin alasan lain mengapa saya menuntut ilmu untuk bisa jadi motivasi bagi orang-orang yang difabel juga supaya bisa mengenyam pendidikan seperti orang biasa, orang dengan fisik yang utuh begitu," tambahnya.
Suarakan Hak Difabel Melalui Karya Ilmiah
Ilham Fathul Kiram selain menginspirasi karena menjadi mahasiswa tercepat menyelesaikan kuliah, juga lulus dengan raihan nilai memuaskan. Hal lain paling menginspirasi adalah, Ilham berhasil menyuarakan hak para penyandang disabilitas melalui karya ilmiah.
Baca Juga : Gadis Disabilitas di Makassar Diperkosa saat Jualan Ikan Keliling, Polisi Tangkap Pelaku
Skripsinya yang berjudul Perencanaan Pedesterian untuk Para Penyandang Disabilitas di Kampus Unhas Tamalanrea, diangkat Ilham sebagai bentuk kepedulian akan hak-hak kelompok difabel yang selama ini kurang mendapat perhatian.
Ia mengaku merasakan betul sulitnya mengakses jalur pejalan kaki sebagai seorang difabel."Jalur pedestrian Kampus 1 Unhas masih belum ramah untuk difabel, jalur pejalan kakinya, tempat parkirnya, bangunan-bangunannya juga masih ada yang belum ramah. Mungkin ada bangunan yang belum ada liftnya," bebernya.
Menurutnya jalur pejalan kaki di Kampus Unhas Tamalanrea itu masih belum bisa dikatakan ramah bagi difabel, sebab ada beberapa jalur yang rusak. Selai itu ada beberapa jalur pejalan kaki yang jalurnya ditumbuhi pohon
"Ini membuat lebar jalan menjadi berkurang, akibatnya sulit untuk difabel untuk melewati khususnya untuk yang pakai kursi roda," tuturnya.
Gigih Melebihi Mahasiswa pada Umumnya
Mahasiswa yang lulus dalam waktu tiga tahun dua belas bulan ini juga mengatakan jalur pejalan kaki di Kampus 1 Unhas belum memiliki ramp (Pelandai untuk naik ke jalur pedestrian) jadi sulit bagi pengguna kursi roda untuk mengakses jalan tersebut.
Baca Juga : Tak Kuasa Tahan Tangis, Sofha Marwah Kagumi Perjuangan Para Ibu Asuh Anak Disabilitas
"Kalau saya kuliah di Kampus Teknik yang ada di Gowa, itu di kampus dua sudah ada liftnya, jadi mudah agak mudah untuk mengakses lantai dua dan tiga," lanjutnya.
Putra Gowa ini berharap kepada pihak kampus dan pemerintah agar jalur pejalan kaki dapat di perbaiki dan diperlebar, sehingga lebih ramah bagi difabel khususnya pengguna kursi roda.
"Walaupun kita punya keterbatasan, tapi kita punya keahlian lain yang dimiliki yang berbeda dari orang-orang tidak memiliki keterbatasan secara fisik, jadi jangan patah semangat karena kita punya kelebihan lain," tutupnya.
Salah-satu dosen pembimbingnya bernama Yashinta Sutopo mengatakan bahwa Ilham ialah mahasiswa yang memiliki keterbatasan fisik yang pernah ada di Fakultas Teknik Unhas. Walau begitu, Ilham disebutnya secara intelektual dan kegigihan melebihi mahasiswa pada umumnya.
"Ilham itu mahasiswa yg tidak pernah mengeluh, tidak pernah berwajah muram, tidak pernah terlihat sedih, saya punya memori mengajar dan membimbing yang sangat bagus degan Ilham. Dia bahkan menjadi silent motivator bagi dosen dan teman-temannya, terkait bagaimana sikap hidup yang sebenar-benar tegar, pantang menyerah, dan ikhlas menjalani apapun takdir Allah tetapkan," kata Yashinta ketika dihubungi Portal Media.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News