PORTALMEDIA.ID, JAKARTA - Kemarau panjang memukul produksi gula global, termasuk Indonesia. Pemerintah didorong segera merealisasikan impor untuk mengintervensi harga Si Manis yang terus merangkak naik.
Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Indonesia (AGI), Budi Hidayat, mengungkapkan, produksi gula tahun ini diprediksi turun hingga 30 persen sehingga harga cenderung akan naik karena faktor iklim El Nino. Namun sayangnya, jumlah produksi gula tahun ini belum final karena beberapa pabrik gula masih dalam masa giling.
Budi menuturkan, kebutuhan konsumsi gula rata-rata diperkirakan sebesar 250 ribu ton per bulan. Sedangkan kebutuhan gula dalam satu tahun sebanyak 2,4 juta sampai 3 juta ton.
Baca Juga : NTP Cetak Rekor Tahun 2025, Tembus 125,35
Karena itu, Budi mendukung rencana impor gula konsumsi segera direalisasikan. Namun, dia ingin kuota impor mengacu pada perhitungan yang akurat.
"Impor gula setuju, kalau data finalnya sudah ada. Produksi dalam negeri berapa, stok atau persediaannya sekarang berapa, juga perkiraan konsumsinya," beber Budi, dikutip Selasa, 31 Oktober 2023.
Budi berharap, Pemerintah tetap merealisasikan impor gula konsumsi guna menjaga ketersediaan pasokan di dalam negeri. Namun, ada kekhawatiran Pemerintah sulit mendapat stok gula impor karena negara pengekspor juga melakukan pengetatan akibat kemarau panjang.
Baca Juga : 40 Ton Beras Ilegal Diamankan, Mentan Amran: Ini Soal Harga Diri Petani
"Kita tahu, India mengambil kebijakan untuk tidak melakukan ekspor komoditi pangannya seperti gula," katanya.
Karena itu, harga gula dunia sekarang sedang tinggi-tingginya dibanding tahun sebelumnya. Dengan kondisi tersebut, ia menilai wajar bila terjadi kenaikan harga gula di dalam negeri.
"Dampaknya tentu sesuai mekanisme pasar. Kalau kekurangan stok, harga akan melambung tinggi," sambungnya.
Baca Juga : Tersangka Korupsi Impor Gula, Tom Lembong Terancam Penjara Seumur Hidup
Data dari panel harga Badan Pangan Nasional (Bapanas), melalui website harga.badanpangan.go.id, harga gula konsumsi secara nasional rata-rata Rp 15.790 per kg pada Oktober 2023. Tertinggi ada di Papua mencapai Rp 19.380 per kg dan terendah di Banten sebesar Rp 14.850 per kg.
Bapanas telah mengatur harga acuan atau HET gula kristal putih atau gula konsumsi di tingkat petani sebesar Rp 12.500 per kg. Dan harga acuan penjualan di tingkat konsumen dipatok Rp 14.500 per kg.
Berbeda untuk di wilayah Papua, Maluku dan Papua, serta daerah perbatasan antarnegara dan 3T (Tertinggal, Terpencil dan Terluar), harga acuan gula konsumsi sebesar Rp 15.500 per kg.
Baca Juga : Bapanas Tegaskan Tak Ada Rencana Naikkan HET Beras
Terpisah, Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi, meminta BUMN bidang pangan dan swasta bisa mempercepat realisasi impor gula, yang baru mencapai 26 persen atau 249.781 ton dari total kuota 1,01 juta ton.
"Yang memegang kuota impor harus merealisasikan importasinya, termasuk RNI dan PTPN (Perkebunan Nusantara)," tegas Arief. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News