PORTALMEDIA.ID – Badan Gizi Nasional memperkenalkan terobosan baru dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Daun kelor dan telur ayam akan dijadikan bahan makanan alternatif untuk menggantikan susu, terutama di wilayah yang sulit menjangkau pasokan susu.
Kebijakan ini bertujuan memastikan kebutuhan gizi masyarakat tetap terpenuhi tanpa terkendala logistik.
Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menjelaskan bahwa tidak semua penerima program MBG akan mendapatkan susu dalam menu harian mereka. Pasokan susu akan difokuskan untuk wilayah dengan sentra peternakan sapi perah.
Baca Juga : Tak Penuhi Standar Sanitasi, 1.256 Dapur Makan Bergizi Gratis di Indonesia Timur Resmi Disetop
“Susu itu akan diberikan di daerah-daerah yang memang sentra peternakan. Kalau bukan di daerah peternakan, tidak usah dipaksakan,” ujar Dadan.
Sebagai pengganti susu, Dadan menyebut telur ayam dan daun kelor dapat memenuhi kebutuhan protein dan kalsium.
“Telur ayam mampu memenuhi kebutuhan protein, sedangkan daun kelor kaya akan kalsium yang baik untuk pertumbuhan anak-anak peserta program,” tambahnya.
Baca Juga : Program Makan Bergizi Gratis Ikuti Jadwal Sekolah, BGN Fokus Efisiensi Anggaran
Program MBG yang rencananya menjangkau hingga 3 juta penerima manfaat ini dirancang fleksibel sesuai kondisi wilayah. Meski begitu, Dadan memastikan susu tetap menjadi bagian dari menu utama bagi daerah dengan pasokan sapi perah yang mencukupi.
“Di daerah peternakan sapi perah, susu akan tetap menjadi bagian dari makanan mereka,” tegasnya.
Program ini akan mulai dilaksanakan secara bertahap mulai 6 Januari 2025. Dengan langkah ini, Badan Gizi Nasional berharap dapat memenuhi kebutuhan gizi masyarakat secara merata, tanpa mengorbankan kualitas bahan makanan.
Baca Juga : BGN Pastikan Tenaga Kependidikan Masuk Penerima Makan Bergizi Gratis
“Pokoknya 3 juta penerima manfaat. Kita mulai bertahap, 6 Januari 2025 adalah pembukaan program ini,” pungkas Dadan. Program ini juga mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan, terutama di daerah-daerah yang selama ini sulit mengakses susu segar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News