PORTALMEDIA.ID, MAKASSAR – Pemerintah Kota Makassar tengah menghadapi situasi darurat terkait penanganan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), seiring penuh sesaknya dua rumah sakit rujukan yang selama ini menjadi tumpuan perawatan.
Kepala Dinas Sosial Kota Makassar, drg. Ita Isdiana Anwar, menyampaikan bahwa keterbatasan fasilitas ini sudah berlangsung sejak akhir pekan lalu, membuat pihaknya kewalahan menangani lonjakan ODGJ di jalanan.
“Kondisi paling berat sekarang adalah ODGJ. Dua rumah sakit rujukan di Makassar, yakni RSKD Dadi dan RSUD Sayang Rakyat, sudah tidak bisa menerima pasien lagi karena penuh,” kata Ita, Selasa (22/4/2025).
Baca Juga : Lewat Makassar Move, Wali Kota Munafri Ajak Warga Olahraga Sambil Awasi Fasilitas Publik
Akibatnya, upaya Tim Reaksi Cepat Dinsos untuk menjaring ODGJ dari jalanan terhambat. Bahkan, menurut Ita, sejumlah rumah sakit sampai harus menggunakan ruang isolasi untuk menampung pasien karena keterbatasan kamar.
“Jumat sampai Minggu kemarin, semua rujukan kami ditolak. Ini benar-benar kondisi darurat,” ungkapnya.
Sebagai langkah darurat, Dinsos Makassar akhirnya menempatkan ODGJ di Rumah Penampungan dan Trauma Center (RPTC). Namun, fasilitas sementara ini pun tak lepas dari kendala kapasitas.
Baca Juga : Lewat Forum Indonesia on the Move, Munafri Siapkan Sistem Transportasi Terpadu dan Rendah Emisi
“RPTC sebetulnya hanya bisa menampung 25 orang, dan selama ini sudah digunakan untuk menangani lansia terlantar, anak jalanan, gelandangan, serta pengemis. Sekarang harus menampung ODGJ juga, tentu sangat membebani,” jelas Ita.
Selain persoalan tempat, proses administratif juga menjadi tantangan tersendiri. Sebagian besar ODGJ yang dijaring tidak memiliki dokumen identitas seperti KTP, apalagi BPJS.
“Kalau tidak ada dokumen, kami harus keluarkan rekomendasi sendiri dan menanggung biaya perawatan. Tapi jumlahnya terus bertambah, makin hari makin banyak,” tuturnya.
Baca Juga : Menjelang Setahun Kepemimpinan MULIA, Makassar Raih UHC Award 2026
Situasi ini mendorong Pemkot Makassar untuk segera mencari solusi jangka pendek maupun panjang agar penanganan ODGJ tidak terabaikan di tengah keterbatasan fasilitas kesehatan jiwa yang tersedia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News