PORTALMEDIA.ID, MAKASSAR – Pagi itu selama 10 hari sejak 23-30 April dan 2-3 Mei 2025 suasana di ruang-ruang ujian Universitas Hasanuddin (Unhas) tampak tenang, ribuan peserta Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2025 duduk khusyuk di hadapan komputer, menjawab soal demi soal yang akan menentukan masa depan mereka.
Namun, di balik layar sistem yang tertata rapi, sebuah pergerakan mencurigakan terekam oleh kamera pengawas kampus.
Tanpa suara, sosok seorang admin IT terlihat memasang sesuatu ke dalam salah satu perangkat komputer. Gerak-geriknya tak terdeteksi oleh peserta ujian, tapi tak luput dari pantauan kamera pengawas yang bekerja 24 jam tanpa henti.
Baca Juga : Desy Ratnasari Minta Peluang Setara bagi Prajurit Perempuan di Satuan Penerbangan
Dari sinilah, benang merah dugaan kecurangan dalam UTBK di Unhas mulai terurai.
“Kami melihat jelas melalui CCTV, ada proses penginstalan aplikasi ilegal oleh salah satu admin IT ruang,” ujar Ishaq Rahman, Kepala Bidang Humas Unhas dalam sebuah acara konfrensi pers di Hotel Unhas pada Senin (5/5/2025).
Aplikasi tersebut, lanjut Ishaq, memungkinkan kendali dari jarak jauh—sebuah pelanggaran berat dalam ujian berstandar nasional seperti UTBK.
Baca Juga : Polri Perluas Direktorat PPA-PPO untuk Perkuat Perlindungan Perempuan dan Anak
Meski hanya terpasang di satu komputer, skenario ini bisa mencoreng integritas kampus yang selama ini dikenal ketat menjaga mutu seleksi masuk perguruan tinggi.
Kasus ini tak berhenti pada perangkat lunak ilegal. Di balik aksi itu, ditemukan pula indikasi adanya sindikat dari lembaga bimbingan belajar yang mencoba merangkul petugas internal. Skenario yang lebih dalam pun mencuat: praktik perjokian.
“Ada tekanan dari luar, ada iming-iming dari bimbingan belajar untuk melibatkan admin IT. Ini bukan kecurangan biasa. Ini sudah terorganisir,” terang Nurul Ichsani, Koordinator Pelaksana UTBK Unhas sekaligus Kepala Sub Direktorat Penerimaan Mahasiswa Baru.
Baca Juga : Minim Sosialisasi, DPR Minta KUHP dan KUHAP Baru Lebih Dikenalkan ke Publik
Nurul mengungkap bahwa selain kasus aplikasi, pihak kampus juga mengidentifikasi peserta ujian yang ternyata digantikan oleh orang lain. Joki itu membawa identitas palsu—KTP, kartu peserta, bahkan surat keterangan sekolah—semuanya hasil rekayasa.
“Mereka menyasar fakultas-fakultas favorit. Kedokteran, teknik, hingga komputer. Tidak hanya di Unhas, tapi juga universitas-universitas besar lainnya seperti UI, ITB, UGM,” katanya.
Setiap tahun, UTBK adalah momen yang menegangkan. Di satu sisi, para siswa bertaruh dengan segenap usaha dan harapan. Di sisi lain, selalu ada celah yang dimanfaatkan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab untuk mengakali sistem.
Baca Juga : Sempat Kabur ke Semak-semak, Pelaku Perampokan Akhirnya Ditangkap Polisi
Unhas, yang tahun ini mengelola 46 ruang ujian, mempercayakan satu admin IT untuk masing-masing ruang.
Semua berasal dari internal kampus. Namun sebagus apa pun sistem, pada akhirnya integritas manusialah yang menentukan.
“Kami sengaja tidak melibatkan pihak luar agar lebih bisa kami kontrol. Tapi tetap, ada godaan di mana-mana,” ujar Nurul.
Baca Juga : Pura-pura Belanja, Dua Emak-emak Gasak Dua Lusin Pakaian di Butik Makassar
Kini, investigasi masih berjalan. Kampus menanti hasil penyelidikan resmi dari kepolisian untuk menindak para pelaku, baik internal maupun eksternal.
Di tengah proses tersebut, pelajaran penting mulai mengemuka: bahwa ujian sebenarnya tidak hanya terjadi di ruang UTBK, tapi juga dalam integritas para pengelolanya.
Kasus ini membuka mata bahwa dalam dunia pendidikan, nilai tidak selalu menjadi ukuran tunggal keberhasilan. Ketekunan, kejujuran, dan sistem yang bersih tak bisa ditawar.
Bagi Ishaq dan Nurul, kejadian ini adalah alarm. Bukan hanya untuk Unhas, tapi untuk seluruh penyelenggara pendidikan tinggi di Indonesia.
"UTBK bukan hanya tentang siapa yang lulus. Ini juga tentang bagaimana kita menjaga martabat sistem seleksi. Karena masa depan bangsa, dimulai dari seleksi yang jujur," tutup Nurul dengan tegas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News