PORTALMEDIA.ID - Twitter akhirnya memblokir akun @bjorkanism. Akun ini merupakan hacker Bjorka atau peretas di balik pembocor data pribadi Menkominfo Johnny G. Plate, Ketua DPR RI Puan Maharani, termasuk menyinggung soal kematian Aktivis HAM Munir.
Sebelumnya akun ini meretas 1,3 miliar data registrasi SIM Card dan menjualnya di forum hacker.
Berdasarkan penelusuran portalmedia, akun @bjorkanism tercatat memiliki 100 ribu lebih followers. Ia juga sempat me-mention Dirjen Aptika Kominfo Semuel A. Pangerapan dan Puan. Khusus Puan, ia sempat mempertanyakan bagaimana rasanya berulang tahun di tengah demo penolakan BBM pada Selasa (6/9/2022) lalu.
"Twitter men-suspend akun (karena) telah melanggar peraturan Twitter," tulis informasi tangkapan layar Twitter.
Akun milik @eldumze memposting tepat di bawah singgungan kasus Munir. Ia menulis "Jirr, tiba-tiba ditangguhkan @bjorkanism #Bjorka
Diketahui sebelumnya, Bjorka juga sempat menyinggung terkait dalang pembunuh Munir Said Thalib. Bahkan hal ini menjadi laporan utama di majalah TEMPO yang akan terbut mendatang.
Baca Juga : Transformasi Digital Makassar: LONTARA+ Jadi Praktik Baik Pelayanan Publik di Rakernas APEKSI
Hal itu dia tuangkan dalam situs yang disematkan dalam cuitan yang berjudul "Who Killed This Good Man? atau diartikan dengan Siapa Pembunuh Orang Baik ini?".
"Saya akan memberitahu anda sebuah nama jika anda bertanya, siapa sosok di balik kematian Munir. Dia adalah Muchdi Purwopranjono yang saat ini duduk sebagai ketua umum Partai Berkarya," tulis Bjorka dalam situs itu, dikutip dari Liputan6.com, Minggu (11/9/2022).
Bjorka lalu merinci data diri dari Muchdi PR. Mulai dari nomor ponsel, alamat rumah, hingga nomor vaksin Covid-19 yang pernah diikuti yang bersangkutan.
Baca Juga : Puan Tegaskan Peran PDIP sebagai Penyeimbang yang Berpihak pada Rakyat
Bjorka kemudian mengurai, bagaimana Muchdi menjadi dalang atas kematian Munir. Menurut peretas yang digadang asal Polandia ini, Muchdi yang kala itu menjabat sebagai Kepala Deputi V Badan Intelijen Negara (BIN) tahun 2003 merasa gerah dengan tindak tanduk Munir sebagai Aktivis Hak Asasi Manusia.
Munir sendiri diketahui adalah Koordinator Kontras, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam bidang kemanusiaan dan HAM.
Kala itu, Munir terus bersuara akan penculikan 13 aktivis di tahun 1997-1998 yang diyakini dilakukan oleh Tim Mawar, sebuah satuan khusus dalam tubuh Kopassus yang pada periode tersebut diketuai oleh Muchdi. Alhasil, posisi Muchdi sebagai Danjen Kopassus dipersoalkan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

