0%
Senin, 24 November 2025 11:34

Kontribusi 22 Persen Belum Optimal, BI Ungkap Masalah Serius di Sektor Pertanian Sulsel

Editor : Alif
Kontribusi 22 Persen Belum Optimal, BI Ungkap Masalah Serius di Sektor Pertanian Sulsel
ist

Untuk mendongkrak produktivitas itu, BI mendorong serangkaian langkah modernisasi, yang mencakup perluasan dan modernisasi jaringan irigasi teknis, mekanisasi peralatan pertanian.

PORTALMEDIA.ID, MAKASSAR - Meski menyumbang sekitar 22% terhadap perekonomian Sulawesi Selatan, Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Selatan (BI Sulsel) menilai sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan masih belum memberikan kontribusi optimal.

Kepala Perwakilan BI Sulsel, Rizki Ernadi Wimanda, menegaskan bahwa produktivitas lahan yang rendah serta minimnya regenerasi petani menjadi persoalan mendasar yang harus segera diatasi.

Rizki menjelaskan, produktivitas lahan pertanian masih rendah akibat mengalami alih fungsi maupun pemanfaatan yang tidak optimal, sehingga tidak mampu menghasilkan output sesuai potensinya.

Baca Juga : Rupiah Cetak Rekor Buruk Tembus Rp18.000 per Dolar AS, IHSG Ikut Ambruk ke Level Terendah 5 Tahun!

“Ada problem di produktivitas lahan yang masih rendah. Banyak alih fungsi dan kemanfaatan lahan yang tidak optimal,” tegasnya.

Untuk mendongkrak produktivitas itu, BI mendorong serangkaian langkah modernisasi, yang mencakup perluasan dan modernisasi jaringan irigasi teknis, mekanisasi peralatan pertanian, hingga penerapan praktik pertanian yang baik atau Good Agricultural Practices (GAP).

“Untuk apa? Biar produktivitasnya dan indeks pertanamannya meningkat. Kemudian manfaatkan lahan-lahan tidur,” jelas Rizki.

Baca Juga : BI Catat Uang Beredar Tembus Rp10.133,1 T pada Desember 2025

Selain itu, krisis regenerasi petani juga menjadi persoalan yang semakin mengkhawatirkan.

Mayoritas petani yang masih bertahan merupakan generasi tua, sementara generasi muda untuk bekerja di sawah maupun sektor perikanan masih sangat rendah.

“Ini perlu diberikan insentif bagi tenaga kerja, terutama petani yang generasi muda,” imbuh Rizki.

Baca Juga : Catatan BI: Transaksi QRIS Tap Tembus Rp28 Miliar di Akhir 2025

Pada komoditas unggulan eperti kako, BI menilai peremajaan tanaman dan penguatan riset bibit unggul menjadi langkah penting untuk meningkatkan produktivitas.

Sementara di sektor perikanan, peningkatan efisinesi nelayan serta penguatan pengolahan hasil tangkapan dianggap ebagai kunci.

BI menekankan perlunya fasilitas seperti cold storage, pabrik es mini, hingga teknologi penemu ikan (fish finder).

Baca Juga : SBT Capai 55,74%, Penyaluran Kredit Baru Meningkat

Potensi hilirisasi juga disorot pada komoditas rumput laut. Selama ini, Sulsel dinilai masih bergantung pada ekspor bahan baku mentah.

“Pengolahan rumput laut perlu diperbanyak karena kita masih banyak dalam raw material. Belum ada hidrolisasi untuk kosmetik atau obat-obatan,” ujar Rizki.

Komoditas kopi yang menjadi kebanggan daerah pun menghadapi tantangan serupa. Ketersediaan pasokan yang belum mencukupi membuat komoditas ini sulit menembus pasar ekspor.

Baca Juga : Fokus Jaga Stabilitas Rupiah, Bank Indonesia Pertahankan BI Rate 4,75%

BI menilai perlunya pemetaan lebih detail terhadap wilayah potensial, utamanya di Enrekang, Toraja, dan Mamasa.

“Untuk kopi itu masih belum bisa menembus pasar ekspor dan pasokan yang tidak mencukupi. Nah ini perlu pemetaan wilayah potensial tersebut,” pungkas Rizki.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Redaksi Portal Media menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: redaksi@portalmedia.id atau Whatsapp 081395951236. Pastikan Anda mengirimkan foto sesuai isi laporan yang dikirimkan dalam bentuk landscape
Berikan Komentar