0%
Jumat, 23 September 2022 20:23

Belajar dari Kasus Mariama, Budayawan: Siri na Pacce Terkikis, Butuh Lembaga Kontrol

Penulis : Gita Oktaviola
Editor : Rasdiyanah
Budayawan Makassar, Abdi Mahesa. Foto: portalmedia/Gita
Budayawan Makassar, Abdi Mahesa. Foto: portalmedia/Gita

Budayawan Makassar menilai budaya siri' na pacce sudah terkikis, hal ini belajar dari kasus perselingkuhan atau kawin lari dari suami Mariama, seorang ibu rumah tangga di Jeneponto, yang justru dibenarkan oleh keluarga dan masyarakat sekitar.

PORTALMEDIA.ID, MAKASSAR - Kasus Mariama, seorang ibu rumah tangga di Jeneponto yang suaminya selingkuh dan dibenarkan oleh keluarga dan masyarakat, sebagian besar dinilai karena budaya siri' na pacce mulai terkikis. 

Budayawan Makassar, Abdi Mahesa menyebutkan, hal ini tidak lepas dari akselerasi budaya masyarakat yang kian hari kian menipis atau terkikis. 

"Utamanya dalam menerapkan budaya siri' na pacce dalam tatanan masyarakat Bugis-Makassar," ujarnya kepada portalmedia, belum lama ini. 

Baca Juga : Kasus Dugaan Perselingkuhan Eks Dandim Makassar Dinilai Mandek

Ia menilai, dalam kasus Mariama jika dilihat fenomenanya, budaya siri' na pacce memang sudah terkikis. Sebab, ada suatu pembiaran yang berlaku di masyarakat.

"Selain itu, karena tidak adanya lagi lembaga atau suatu institusi sosial yang mengawasi dan memberikan kontrol dalam penerapan siri'. Sehingga ini perlu dibangun kembali untuk mempertahankan budaya itu," ujarnya.

"Selain itu, gengsi juga menjadi pemicu. Situasi hari ini yang awalnya menjadi hal buruk diterima dan anggap menjadi suatu hal yang wajar sehingga menjadi kebiasaan," lanjut Abdi.

Baca Juga : Hadiri Hut Jeneponto, Bupati Bantaeng Uji Nurdin Nilai Bumi Tuareta Berkesan

Apalagi jika budaya siri' diangkat dalam kehidupan keluarga. Harusnya penerapan ini bisa memjadikan pegangan hidup untuk tidak saling menyakiti dan menghargai.

"Perlu adanya kerja keras sebagai upaya yang dibangun oleh suatu individu. Sehingga, jika mencapai suatu posisi martabat. Mereka akan memperlakukan pasangan dengan baik dan takut mappaka siri' (tindakan memalukan) karena dia tidak mau mappaka siri makanya mereka saling di pakatau (menghargai)," tutur Abdi.

Ia menambahkan, siri' na pacce sebagai perwujudan modal hidup orang Bugis-Makassar yang harus dipertahankan dan dijunjung tinggi.

Baca Juga : Bantah Isu Anak di Luar Nikah, Ridwan Kamil: Ini Fitnah Bermotif Ekonomi

"Modal hidup itu, maksudnya bagaimana kita tidak hanya sekadar memajukan eksistensi budaya, tapi juga menjadi pribadi dengan nilai-nilai dan ajaran-ajarannya dapat menerapkan etika moralitas," ucapnya kepada portalmedia.id, belum lama ini. 

Siri' na pacce kata Abdi, memiliki fungsi sebagai trend sosial yang menjadi media pengawasan juga pengendalian diri untuk mengarahkan masyarakat pada tatanan ideal dalam satu komunitas.

"Jadi ini semacam jalan kita untuk menjadi manusia yang sesuai dengan nilai-nilai yang ada di masyarakat. Ini nilainya fleksibel. Bisa diterapkan di lingkungan mana saja . Karena nilai-nilai itu bukan hanya menjaga harga diri tetapi meningkatkan harga diri menjadi martabat yang dalam prosesnya itu ada suatu keuletan," jelasnya.

Baca Juga : Danny Pomanto dan Pj Bupati Jeneponto Taken MoU Pengendalian Inflasi Daerah

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Redaksi Portal Media menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: redaksi@portalmedia.id atau Whatsapp 081395951236. Pastikan Anda mengirimkan foto sesuai isi laporan yang dikirimkan dalam bentuk landscape
Berikan Komentar