PORTALMEDIA.ID, MAKASSAR – Ekosistem Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) di Sulawesi Bagian Selatan menunjukkan pertumbuhan pesat, ditandai dengan lonjakan transaksi isi daya di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) sebesar 222% pada tahun 2025.
Menyikapi antusiasme ini, PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Sulselrabar telah mengoperasikan 65
SPKLU yang tersebar di 51 lokasi dan menargetkan penambahan 14 unit baru hingga akhir tahun 2025.
General Manager PLN UID Sulselrabar, Edyansyah, memaparkan tingginya antusiasme pengguna dalam acara Focus Group Discussion (FGD) di Makassar, Selasa (18/11).
Data menunjukkan, jumlah transaksi isi daya di SPKLU PLN UID Sulselrabar mencapai 10.369 kali hingga kuartal tiga 2025, meningkat drastis dibandingkan 4.655 transaksi pada periode yang sama tahun 2024.
Edyansyah menambahkan bahwa penggunaan mobil listrik dapat menekan biaya operasional.
"Jika menggunakan kendaraan berbahan bakar fosil, rata-rata biaya operasional per kilometer adalah Rp 800,-. Namun, dengan mobil listrik, biaya operasionalnya hanya sekitar Rp 200,- per kilometer. Jadi, ini sangat hemat," jelas Edyansyah.
Penghematan tersebut didukung Program Stimulus Percepatan Penggunaan KBLBB, termasuk insentif diskon 30% pada home charging di waktu Luar Waktu Beban Puncak (LWBP).
Tercatat, hingga Oktober 2025, sebanyak 219 pelanggan di Sulsel telah menikmati layanan Home Charging Service (HCS).
Plt. Kepala Dinas ESDM Provinsi Sulawesi Selatan, Andi Eka Prasetya, dalam FGD tersebut menjelaskan bahwa sistem kelistrikan Sulawesi Bagian Selatan cukup memadai sehingga mampu mengakomodasi pertumbuhan KBLBB masyarakat di Sulawesi Selatan.
Ia menegaskan, Pemerintah Sulsel terus mendukung kebijakan percepatan ekosistem.
"Masyarakat mulai antusias dengan kendaraan listrik karena lebih efisien dan efektif. Potensi pasar juga sangat besar sehingga Pemerintah Sulsel terus mendukung kebijakan percepatan ekosistem, baik di lingkungan internal pemerintahan maupun kemudahan bagi masyarakat," kata Andi Eka.
Salah seorang pengguna mobil listrik di Kota Makassar, Asri, membenarkan penghematan ini. Ia mengaku pengeluaran operasionalnya turun dari Rp 800 ribu per bulan (konvensional) menjadi hanya sekitar Rp 270 ribu per bulan (listrik), menghemat Rp 530 ribu per bulan.
"Dengan masifnya SPKLU ini merupakan angin segar bagi kami yang memiliki mobilitas tinggi. Selain itu, sejak menggunakan mobil listrik, pengeluaran operasional saya lebih hemat," ujar Asri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News