PORTALMEDIA.ID -- Di tengah arus informasi yang kian deras, digital minimalism muncul sebagai salah satu tren gaya hidup yang semakin diminati.
Konsep ini memfokuskan waktu daring hanya pada aktivitas yang benar-benar memberi nilai tambah bagi kehidupan.
Secara sederhana, digital minimalism adalah filosofi penggunaan teknologi secara sadar dan terpilih.
Baca Juga : THRIVE Talenta Digital Telkomsel Bekali Mahasiswa UNHAS Hadapi Era AI dan Data Analytics
Bukan soal menolak teknologi sepenuhnya, melainkan memilih dengan sengaja aplikasi, platform, dan aktivitas digital yang memang dibutuhkan, sekaligus mengurangi hal-hal yang dianggap hanya menjadi gangguan.
Sejatinya, digital minimalism merupakan gaya hidup yang mindful di tengah dunial digital yang overload. Fokus utamanya adalah membangun hubungan yang lebih sehat dengan teknologi.
Konsep ini dipopulerkan oleh Cal Newport melalui bukunya Digital Minimalism.
Baca Juga : Forum SKPD Makassar Dorong Modernisasi dan Transformasi Digital Tata Kelola Kearsipan
Dalam pandangannya, digital minimalism adalah pilihan sadar untuk menggunakan teknologi hanya ketika benar-benar mendukung nilai dan tujuan hidup, sekaligus menghilangkan kebisingan digital yang menguras perhatian dan energi mental.
Penerapan digital minimalism disebut memiliki sejumlah manfaat, terutama bagi kesehatan mental.
Mulai dari mengurangi kecemasan, kelelahan mental, hingga tekanan akibat paparan konten negatif atau kebiasaan membandingkan diri di media sosial.
Baca Juga : Asisten I Tekankan Pentingnya Optimalisasi Infrastruktur Digital
Selain itu, gaya hidup ini juga membantu memulihkan kemampuan fokus jangka panjang, karena otak tidak terus-menerus terdistraksi oleh notifikasi.
Tak sedikit yang merasakan pergesaran pola pikir dari FOMO (fear of missing out) menjadi JOMO (joy of missing out), yakni menikmati kenangan tanpa merasa harus selalu mengikuti setiap tren atau kabar terbaru di internet.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News