PORTALMEDIA.ID -- Belakangan ini, "Eipsten Files" kembali ramai diperbincangkan di sosial.
Eipsten Files merujuk pada kumpulan dokumen investigasi terkait kasus perdagangan seks dan pelecehan seksual yang dilakukan Jeffrey Eipstein.
Jeffrey Epstein dituduh menjalankan jaringan eksploitasi seksual terhadap anak di bawah umur selama bertahun-tahun, dengan korban yang disebut berasal dari kalangan remaja.
Kasus ini juga menyeret nama sejumlah tokoh berpengaruh, mulai dari pebisnis, politisi, hingga public figure.
Perhatian publik kembali menmuncak setelah rilis besar dokumen pada 30 Januari 2026.
Dalam rilis terbaru tersebut, otoritas mempublikasikan lebih dari 3 juta halaman materi, yang mencakup berkas pengadilan, doumen FBI, pernyataan saksi, catatan penerbangan, komunikasi internal, hingga gambar dan video.
Namun, para pengamat menilai bahwa tidak semua isi dokumen merupakan informasi baru.
Sebagian besar berisi data yang telah dipublikasikan sebelumnya, dipublikasikan sebelumnya, duplikasi berkas lama, atau materi yang tidak secara langsung mengungkap pelaku baru.
Kasus Epstein sendiri bukan peristiwa yang muncul secara tiba-tiba. Penyelidikan bermula sejak tahun 2005 di Florida, diikuti kontroversi kesepakatan hukum yang sempat menuai kritik publik.
Perhatian kembali meningkat setelah dokumen pengadilan pada 2024, dan mencapai puncaknya pada 2025-2026 seiiring diberlakukannya kebijakan transparansi yang mendorong publikasi arsip investogasi secara lebih luas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News