0%
Rabu, 01 April 2026 19:47

Produksi Saprolit Bahodopi Melejit 90 Persen, PT Vale Tatap Optimisme di 2026

Editor : Agung
Produksi Saprolit Bahodopi Melejit 90 Persen, PT Vale Tatap Optimisme di 2026
ist

Di tengah optimisme Bahodopi, INCO tetap mewaspadai beberapa tantangan eksternal seperti volatilitas harga nikel global, potensi pajak ekspor, hingga perubahan tren kimia baterai kendaraan listrik.

PORTALMEDIA.ID – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menunjukkan taringnya di awal tahun 2026. Emiten nikel raksasa ini diprediksi akan mengalami lonjakan kinerja yang signifikan, didorong oleh performa impresif dari tambang Bahodopi dan Pomalaa.

Berdasarkan riset terbaru, blok Bahodopi menjadi salah satu katalis utama. Pada kuartal IV-2025 saja, volume penjualan bijih saprolit dari Bahodopi dan Pomalaa tercatat meroket hingga 90 persen secara berurutan.

Analis UBS Sekuritas Indonesia, Igor Putra, mengungkapkan bahwa pencapaian di Bahodopi menandakan kemampuan kuat INCO dalam menggenjot penjualan bijih nikel sepanjang tahun ini.

Baca Juga : Kinerja Solid 2025: Laba Bersih PT Vale Melonjak 32 Persen di Tengah Tantangan Pasar

"Peningkatan produksi di kedua tambang tersebut (Bahodopi dan Pomalaa) menunjukkan operasi terintegrasi yang akan meningkatkan kepastian kuota penambangan atau RKAB INCO dibandingkan kompetitornya hingga akhir 2026," jelas Igor dalam risetnya dilansir Rabu (1/4/26).

Kinerja 2025 Lampaui Ekspektasi Pendapatan

Secara finansial, INCO menutup tahun buku 2025 dengan catatan positif. Laba bersih tercatat sebesar US$ 76 juta, atau naik 32 persen secara year-on-year (yoy).

Baca Juga : Dukung Asta Cita Presiden dan SDGs Ketahanan Pangan, PT Vale Panen Bersama Demplot Padi Berkelanjutan di Kolaka

Meskipun laba bersih sedikit di bawah estimasi awal karena adanya percepatan pembangunan ulang Tungku 3 dan biaya restorasi lingkungan, namun dari sisi pendapatan, INCO justru melampaui target. Hal ini dipicu oleh tingginya volume penjualan bijih saprolit dan nikel matte yang mampu menutupi fluktuasi harga jual rata-rata (ASP).

Proyeksi Semester II-2026: Fase Recovery

Meski kuartal II-2026 dianggap sebagai fase transisi karena keterbatasan RKAB yang baru terealisasi sekitar 30 persen, para analis meyakini fondasi INCO sangat kuat untuk melakukan recovery di semester kedua.

Baca Juga : Gempuran Tekanan Global Tak Surutkan Langkah, PT Vale Sukses Cetak Penjualan Fantastis di Awal 2026

"Kami memperkirakan produksi nikel matte akan pulih dengan kuat pada semester II-2026, seiring selesainya pembangunan kembali Tungku 3 pada Mei mendatang," tambah Igor.

Senada dengan hal tersebut, Imam Gunadi dari Indo Premier Sekuritas menilai outlook tahun 2026 tetap kokoh dengan proyeksi laba bersih bisa mencapai US$ 247 juta—sebuah lonjakan fantastis sebesar 237 persen (yoy)—yang ditopang oleh kenaikan volume penjualan bijih nikel.

Tantangan Global dan Rekomendasi Saham

Baca Juga : Pulihkan Ekosistem Pascatambang, PT Vale Indonesia Dorong Keberlanjutan di Tanah Sorowako

Di tengah optimisme Bahodopi, INCO tetap mewaspadai beberapa tantangan eksternal seperti volatilitas harga nikel global, potensi pajak ekspor, hingga perubahan tren kimia baterai kendaraan listrik.

Namun, posisi INCO sebagai pemegang cadangan bijih berkualitas tinggi tetap menjadikannya primadona bagi para investor. Berikut adalah rangkuman rekomendasi analis:

• UBS Sekuritas: Buy (Target Rp 9.000)

Baca Juga : Update Jembatan Sorowako: PT Vale Siapkan Jalur Alternatif, Akses Saat Ini Dibatasi

• JP Morgan Sekuritas: Overweight (Target Rp 9.300)

• BRI Danareksa: Buy (Target Rp 8.000)

• Indo Premier: Buy on Weakness (Target Rp 6.500)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Redaksi Portal Media menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: redaksi@portalmedia.id atau Whatsapp 081395951236. Pastikan Anda mengirimkan foto sesuai isi laporan yang dikirimkan dalam bentuk landscape
Berikan Komentar