PORTALMEDIA — Arah ekonomi nasional mendapat sorotan tajam dalam diskusi publik bertajuk “Republik Oligarki: Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026” yang digelar di Dawai Coffee, Makassar, Jumat (15/5). Forum refleksi kritis ini menghadirkan Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, dan Ketua Umum ABDSI sekaligus akademisi Makassar, Bahrul Ulum Ilham, dengan dipandu oleh Yusuf Uno dari komunitas BisaBaca.
Dalam pemaparannya, Bhima Yudhistira mengungkapkan data mencengangkan dari laporan CELIOS, di mana 50 orang terkaya di Indonesia kini menguasai kekayaan yang setara dengan total harta 55 juta penduduk dewasa. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi saat ini belum mencerminkan pemerataan kesejahteraan akibat akumulasi kekayaan yang bias pada segelintir elite.
Bhima menggambarkan fenomena ini sebagai "dua Indonesia", di mana kekayaan kelompok superkaya bertambah miliaran rupiah setiap hari, sementara kenaikan upah riil buruh berjalan sangat lambat. Ia juga mengkritik model hilirisasi sektor ekstraktif.
"Sebanyak 58 persen kekayaan kelompok superkaya berasal dari sektor batu bara, sawit, dan tambang nikel. Namun, hilirisasi belum sepenuhnya menghadirkan keadilan distribusi manfaat bagi masyarakat di sekitar kawasan industri," ujar Bhima.
Merespons hal tersebut, Bahrul Ulum Ilham menawarkan perspektif ekonomi Islam sebagai alternatif struktural atas ketimpangan ini. Bahrul menekankan pentingnya redefinisi kepemilikan. Dalam Islam, sumber daya alam strategis berskala besar masuk dalam kategori kepemilikan publik yang tidak boleh dikuasai secara privat tanpa batas. Ia juga menyoroti sistem riba dan konsentrasi dana perbankan pada simpanan besar yang mempercepat transfer kekayaan dari miskin ke kaya.
Diskusi yang dihadiri lintas elemen mulai dari akademisi, aktivis, hingga pelaku UMKM ini berlangsung dinamis. Menutup forum, Bahrul menegaskan bahwa transformasi ekonomi memerlukan sinergi kuat antara akademisi, gerakan sosial, dan komunitas berbasis nilai untuk membangun sistem yang lebih berkeadilan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News