MAKASSAR, portalmedia.id — Situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali berada di ambang krisis besar. Ketegangan eskalasi militer meningkat drastis setelah Iran meluncurkan rentetan rudal ke wilayah utara Israel sebagai bentuk respons atas serangan udara yang menghantam Lebanon baru-baru ini.
Dilansir dari Al Jazeera English, peluncuran rudal oleh Teheran tersebut diklaim sebagai tindakan pembelaan diri. Serangan mendadak ini seketika mengakhiri masa tenang yang sempat dirasakan wilayah utara Israel selama beberapa bulan terakhir dan memaksa otoritas setempat kembali memberlakukan status darurat.
Otoritas Teheran menegaskan bahwa serangan ini merupakan tembakan peringatan keras karena Israel dinilai telah melewati batas (crossed all red lines). Israel dituding mengintensifkan serangan udara di pinggiran selatan Beirut (Dahiyeh), Lebanon, yang secara nyata mencederai kesepakatan gencatan senjata yang tengah diupayakan. Pihak Iran juga mengancam akan melayangkan pukulan militer yang jauh lebih destruktif jika Tel Aviv nekat memperluas cakupan agresi mereka.
Baca Juga : Munafri Ajak RT/RW Pimpin Gerakan Pilah Sampah, Siapkan Insentif Rp100 Juta bagi Lingkungan Terbaik
Di pihak lain, militer Israel (IDF) mengklaim bahwa sistem pertahanan udara mereka berhasil mengintersep sebagian besar rudal yang ditembakkan oleh Iran. Perwakilan militer Israel menyatakan bahwa Iran telah melakukan kesalahan strategis yang besar dengan mencoba membangun perimbangan kekuatan baru lewat serangan langsung. IDF menegaskan tidak akan mundur dan tetap melanjutkan operasi militer di Lebanon demi meredam kekuatan kelompok Hizbullah.
Langkah Diplomatik dan Kekhawatiran Pasokan Energi Global
Mengantisipasi dampak perang terbuka, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, langsung bergerak cepat melakukan gerilya diplomatik. Ia menghubungi para mediator internasional mulai dari Pakistan, Qatar, Mesir, Turki, Inggris, hingga Prancis guna menjelaskan pelanggaran kesepakatan oleh Israel yang memicu respons militer dari Teheran. Iran bahkan memperingatkan akan menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di kawasan tersebut jika gencatan senjata benar-benar kolaps.
Baca Juga : Investigasi NYT Ungkap Rahasia Citra Satelit: Serangan Drone Iran Hantam 18 Pangkalan Militer AS
Konflik yang kembali membara ini langsung memicu kekhawatiran global, terutama terkait potensi gangguan akut pada jalur pasokan energi dunia di kawasan Teluk.
Kendati situasi di lapangan terus memanas, Pemerintah Amerika Serikat menyatakan optimisme bahwa ruang dialog dan kesepakatan tertulis terkait gencatan senjata masih mungkin dicapai. Presiden AS meminta kedua belah pihak menahan diri agar tidak merusak peluang perdamaian jangka panjang yang sedang dirumuskan. Sejumlah pengamat memperingatkan jika kesepakatan formal tidak segera ditandatangani, aksi saling balas ini berpotensi memicu perang skala penuh di kawasan. (red)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News