MAKASSAR, portalmedia.id — Upaya menutup-nutupi dampak kerusakan pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di kawasan Timur Tengah akhirnya terbongkar. Sebuah investigasi visual mendalam yang dirilis oleh media terkemuka Amerika Serikat, The New York Times (NYT), mengungkap fakta mencengangkan mengenai efektivitas serangan pesawat tanpa awak (drone) dan rudal milik Iran serta milisi sekutunya.
Dilansir dari laporan investigasi The New York Times, Pentagon sempat menggunakan pengaruhnya untuk memblokade informasi dan meminta perusahaan satelit komersial Amerika membatasi atau menghapus riwayat citra satelit di kawasan Timur Tengah. Langkah ini diambil secara sengaja untuk menyembunyikan skala kerusakan infrastruktur militer dari publik, sembari mengeklaim bahwa sistem pertahanan udara mereka berfungsi optimal.
Namun, tim jurnalis independen berhasil mematahkan blokade informasi tersebut. NYT mengumpulkan puluhan citra satelit yang sebelumnya dipublikasikan oleh media pemerintah Iran, kemudian melakukan verifikasi silang (cross-check) menggunakan data citra satelit dari perusahaan kedirgantaraan Eropa yang tidak tunduk pada yurisdiksi dan aturan pembatasan ketat Amerika Serikat.
Baca Juga : Ketegangan Timur Tengah Memuncak, Iran Balas Gempuran Israel Setelah Klaim ‘Garis Merah’ Dilanggar
Hasilnya mengejutkan, citra satelit dari pihak Iran terbukti 100 persen akurat dan identik dengan rekaman satelit Eropa. Investigasi mendeteksi sedikitnya ada 18 situs militer strategis di 7 negara berbeda yang digunakan oleh Angkatan Bersenjata AS—termasuk pos komando taktis berukuran kecil—berhasil dihantam dengan tingkat presisi tinggi. Serangan masif ini tercatat sebagai operasi penggempuran terluas terhadap fasilitas militer Washington di Timur Tengah dalam sejarah modern.
Dampak Fatal: Personel Tewas dan Kerugian USD 1 Miliar
Gempuran udara ini tidak sekadar merusak bangunan kosong, melainkan turut menimbulkan korban jiwa di pihak militer AS. Rekaman data mengonfirmasi adanya serangan drone presisi yang menewaskan enam personel militer AS di sebuah pos komando darurat di kawasan pelabuhan Kuwait, serta satu personel tewas di pangkalan Arab Saudi.
Baca Juga : Visa Ofisial Dicekal Amerika Serikat, Timnas Iran Terpaksa Mengungsi Latihan ke Meksiko
Kerusakan infrastruktur fisik terpantau sangat masif di sejumlah negara sekutu AS. Citra satelit Eropa dengan jelas memperlihatkan hancurnya instalasi komunikasi vital, seperti radar pengawas dan antena satelit di Bahrain, hanggar pangkalan udara di Arab Saudi, serta pangkalan taktis di Suriah. Sementara di Camp Victory, Irak, serangan melumat gudang penyimpanan senjata, tangki pasokan bahan bakar, hingga menghancurkan satu unit helikopter Blackhawk.
Analis pertahanan dari lembaga pemikir global, Center for Strategic and International Studies (CSIS), memperkirakan total kerugian finansial akibat hancurnya infrastruktur basis pertahanan dan hilangnya aset kedirgantaraan AS tersebut menembus angka sedikitnya USD 1 miliar atau setara Rp16,2 triliun. Bahkan, biaya pemulihan untuk satu sistem radar pengintai yang rusak di Yordania saja ditaksir menelan biaya operasional hingga USD 500 juta.
Celah Keamanan dan Kerentanan Baru Militer AS
Baca Juga : Munafri Resmikan Kelenteng Ji Li Gong, Tekankan Toleransi dan Pembinaan Generasi Muda
Investigasi ini sekaligus menelanjangi celah keamanan akut pada doktrin pertahanan udara AS. Meskipun sistem proteksi rudal milik Pentagon diklaim memiliki tingkat pencegatan (interception rate) hingga 90 persen, sisa 10 persen drone murah produksi Iran yang berhasil lolos terbukti mampu menciptakan kerusakan fatal.
Para pakar militer internasional kini menilai bahwa kehadiran fisik pangkalan militer Amerika Serikat yang sangat besar dan tersebar luas di penjuru Timur Tengah kini justru berbalik menjadi bumerang. Pangkalan-pangkalan tersebut kini berubah menjadi target statis yang sangat rentan (liability) terhadap ancaman asimetris berupa serangan kawanan drone (drone swarm) berbiaya murah namun mematikan yang disuplai oleh Teheran. (red)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News