MAKASSAR, portalmedia.id – Pasar keuangan dan sektor energi domestik kompak bergejolak pada perdagangan Rabu pagi (10/6/2026). Dinamika ini dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik global di Timur Tengah yang berimbas langsung pada penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi di dalam negeri, sekaligus menguji ketahanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
PT Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga BBM jenis Pertamax (RON 92) menjadi Rp16.250 per liter dari yang sebelumnya Rp12.300 per liter untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Kenaikan signifikan sebesar Rp3.950 per liter ini merupakan respons perdana Pertamina setelah harga minyak mentah dunia (WTI) melonjak ke kisaran USD 89 per barel pasca-serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran di kawasan Selat Hormuz.
Meski demikian, lonjakan harga BBM non-subsidi ini secara mengejutkan tidak membuat pasar modal domestik ambruk.
Baca Juga : IHSG Terbang Tinggi 7,57%, Terbantu Wacana Buyback Emiten Tanpa RUPS dan Sentimen BI Rate
Anomali IHSG: Sempat Memerah Lalu Melejit 1% Lebih
Pada pembukaan perdagangan pukul 09.00 WIB, IHSG sebenarnya sempat merespons negatif sentimen global dengan terkoreksi 1,11% ke level 5.677. Pelemahan ini sejalan dengan rontoknya bursa utama Asia, di mana indeks Kospi Korea Selatan memimpin kejatuhan hingga lebih dari 2%.
Namun, koreksi tersebut hanya berlangsung kurang dari lima menit. Aliran modal domestik yang kuat langsung membalikkan keadaan, membawa IHSG melesat naik lebih dari 1,55% ke level 5.836. Aktivitas transaksi di awal sesi terpantau sangat ramai dengan nilai transaksi menembus Rp1,53 triliun yang didominasi oleh perburuan saham big caps perbankan seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan TLKM.
Baca Juga : Hadiri 'Freedom 250' di Surabaya, Aliyah Tegaskan Makassar Terbuka bagi Kemitraan Internasional
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa penyesuaian harga komoditas Pertamax Series dan Dex Series ini murni didasarkan pada kalkulasi formula harga keekonomian global dan regulasi pemerintah. Sebaliknya, demi menjaga daya beli masyarakat luas, tarif BBM subsidi seperti Pertalite (Rp10.000/liter) dan Solar (Rp6.800/liter) dipastikan tetap stabil.
Daya Tahan Sentimen Buyback Saham BUMN
Kuatnya struktur penopang IHSG di tengah hantaman badai harga minyak disinyalir berkat adanya intervensi kebijakan strategis dari dalam negeri. Investor cenderung mengabaikan sentimen negatif inflasi BBM karena fokus pada rencana aksi pembelian kembali (buyback) saham oleh emiten perbankan pelat merah (Himbara) tanpa melalui mekanisme RUPS.
Baca Juga : Investigasi NYT Ungkap Rahasia Citra Satelit: Serangan Drone Iran Hantam 18 Pangkalan Militer AS
Pertemuan darurat yang diinisiasi Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad bersama jajaran direksi perbankan BUMN, Mensesneg Prasetyo Hadi, dan pihak BPI Danantara berhasil meyakinkan pasar bahwa fundamental ekonomi dan korporasi domestik dalam kondisi aman.
Kombinasi antara kepastian pasokan energi oleh Pertamina serta respons taktis otoritas pasar modal dalam menahan kepanikan global berhasil menciptakan jangkar stabilitas. Alhasil, Indonesia mencatatkan anomali ekonomi yang positif di mana pasar saham tetap bergairah subur meskipun dihadapkan pada realitas pengetatan harga energi (red).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News