0%
Minggu, 14 Juni 2026 09:54

Trump Klaim Kesepakatan Damai Diteken Hari Ini, Iran Membantah dan Minta Semua Pihak Menahan Diri

Editor : Chale
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Klaim sepihaknya di media sosial mengenai penandatanganan kesepakatan awal damai dengan Iran pada hari Minggu ini langsung memicu bantahan dari pihak Teheran dan penolakan keras dari sekutunya, Israel.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Klaim sepihaknya di media sosial mengenai penandatanganan kesepakatan awal damai dengan Iran pada hari Minggu ini langsung memicu bantahan dari pihak Teheran dan penolakan keras dari sekutunya, Israel.

Donald Trump klaim kesepakatan damai AS-Iran diteken hari ini, namun Teheran membantah. Sementara itu, Israel tegas menolak ikut serta dalam perjanjian tersebut.

DUBAI/WASHINGTON, portalmedia.id — Dinamika politik global kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bersama negara mediator Pakistan secara sepihak mengklaim bahwa kesepakatan awal untuk mengakhiri perang di Timur Tengah akan ditandatangani secara elektronik pada hari Minggu (14/6/2026). Namun, klaim sepihak Washington ini langsung memicu respons hati-hati dan bantahan dari pihak Teheran.

Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, mengungkapkan bahwa kedua belah pihak sebenarnya telah menyetujui kerangka kerja dasar untuk nota kesepahaman damai. Meski begitu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa penandatanganan tidak akan terjadi secepat apa yang diklaim oleh Trump.

"Kita harus menunggu dan melihat tanggal pasti penandatanganan, meskipun hal tersebut tidak akan terjadi besok," tegas Baghaei seperti dikutip dari media pemerintah Iran. Ia menambahkan bahwa proses ini masih diwarnai keraguan dari beberapa pihak, sehingga memerlukan kehati-hatian tinggi.

Baca Juga : Perkuat Komitmen PAUDHI Berkualitas, Pokja Bunda PAUD Makassar Gelar Sinergi Lintas Sektor di Malino

Babak Baru Selat Hormuz dan Pencairan Aset

Jika perjanjian ini resmi disepakati, draf ketentuan awal menunjukkan adanya kompromi besar dari kedua belah pihak. Iran diwajibkan membuka kembali Selat Hormuz—jalur vital pasokan minyak dunia yang selama berbulan-bulan diblokade secara efektif. Sebagai imbalannya, Amerika Serikat akan mencabut blokade laut di pelabuhan Iran, mulai mencairkan miliaran dolar aset Iran yang dibekukan, serta memberikan pengecualian sanksi pada ekspor minyak Teheran.

Terkait isu sensitif program nuklir Iran yang menjadi pemicu utama perang, kedua pihak sepakat untuk membahasnya dalam periode negosiasi lanjutan selama 60 hari. AS menargetkan pembongkaran total program nuklir tersebut, sementara Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengisyaratkan negaranya hanya bersedia mempertahankan uranium dalam bentuk yang telah diencerkan.

Baca Juga : Diikuti Ratusan Purnapraja Lintas Provinsi, Wali Kota Munafri Apresiasi Turnamen Padel IKAPTK Sulsel

Gelombang Protes di Internal Iran

Meskipun Menlu Araqchi mengklaim posisi Iran keluar lebih kuat dari draf perjanjian ini, situasi domestik Teheran justru bergejolak. Aksi unjuk rasa penolakan kesepakatan dengan AS telah berlangsung selama lebih dari 100 malam berturut-turut di berbagai kota besar Iran.

Di kota Mashhad, massa penentang kesepakatan meneriakkan slogan-slogan bernada amarah yang menyasar internal pemerintahan mereka sendiri. "Mati bagi mereka yang berkompromi," dan "Pengkhianat, mundur, mundur," menjadi teriakan lantang demonstran yang merujuk pada kekecewaan mereka terhadap langkah diplomasi Menlu Araqchi.

Baca Juga : Kagumi Arsitektur Cetiya Zhen An Kong, Wali Kota Makassar Tekankan Pentingnya Inklusivitas

Ketegangan di lapangan juga belum sepenuhnya mereda. Sesaat setelah draf ini mencuat, pasukan AS dilaporkan sempat menembak jatuh beberapa drone serang milik Iran yang bergerak mengancam lalu lintas komersial di dekat Selat Hormuz.

Israel Memilih Angkat Kaki

Di pihak lain, keretakan hubungan sekutu barat terlihat jelas setelah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa negaranya tidak akan sudi ikut serta dalam perjanjian damai bentukan Washington tersebut. Netanyahu dilaporkan sempat berselisih paham dengan Trump lantaran desakan AS agar Israel mengerem aksi militer di Lebanon demi memuluskan jalan diplomasi dengan Teheran.

Baca Juga : Bukti Tak Tebang Pilih, Pemkot Makassar Tertibkan Sisa Konstruksi Lapak Pallubasa Serigala

Meskipun pihak Iran mengklaim kesepakatan ini otomatis bakal mengakhiri perang dan memaksa penarikan mundur pasukan Israel dari wilayah pendudukan di Lebanon, Menteri Pertahanan Israel membantah keras hal tersebut dan menyatakan tidak akan menarik pasukannya.

Konflik bersenjata berskala besar ini sendiri diketahui pecah sejak awal tahun pasca-serangan udara gabungan AS-Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Posisi Khamenei kini digantikan oleh putranya, Mojtaba Khamenei, sementara prosesi pemakaman sang ayah dijadwalkan baru akan dimulai di Teheran pada 4 Juli mendatang (red).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Redaksi Portal Media menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: redaksi@portalmedia.id atau Whatsapp 081395951236. Pastikan Anda mengirimkan foto sesuai isi laporan yang dikirimkan dalam bentuk landscape
Berikan Komentar