MAKASSAR, portalmedia.id — Pemerintah Kota Makassar melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar kembali menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga kelestarian lingkungan dan mengantisipasi dampak buruk genangan. Kali ini, langkah taktis pengendalian lingkungan difokuskan pada pembersihan kotoran serta limbah padat yang mengapung bebas di sepanjang aliran Kanal Kandea, Kecamatan Tallo, Selasa (16/6/2026).
Kepala Pelaksana BPBD Kota Makassar, Muhammad Fadli Tahar, memaparkan bahwa armada perahu taktis beserta puluhan personel tangguh diterjunkan langsung ke lokasi untuk menyisir sekaligus mengangkut sumbatan sampah yang mengapung di permukaan air.
Menurut Fadli, institusi BPBD kini tidak sekadar terpaku pada penanganan kedaruratan pasca-bencana atau emergency response semata. Paradigma kerja kedinasan telah bergeser ke arah pematangan langkah mitigasi struktural dan pencegahan dini, salah satunya dengan menyokong program kerja pemerintah kecamatan setempat dalam merawat kebersihan kanal.
Baca Juga : Setelah Bertahun-tahun Diisi Plt, Munafri Kukuhkan 47 Kepala Puskesmas Definitif se-Kota Makassar
"Personel kami turun langsung ke tengah kanal menggunakan armada perahu untuk menyisir dan mengangkut tumpukan sampah yang menyumbat aliran air," ungkap Muhammad Fadli Tahar di sela-sela peninjauan lapangan, Selasa (16/6/2026).
Pembersihan Lintas Wilayah dan Pengerahan Tim TRC di Hari Libur
Operasi pembersihan yang digalang BPBD bersama tim gabungan lintas kecamatan ini menyasar rute aliran kanal yang cukup panjang, mulai dari area depan Perumahan Grand Apple hingga kawasan sekolah dasar (SD) di sekitar Jalan Al-Markaz. Aksi bersih-bersih ini merupakan tindak lanjut konkret dari instruksi berkala Wali Kota Makassar untuk mempererat sinergi lintas sektor demi menjaga fungsi drainase primer kota dari timbulan sampah.
Baca Juga : BPS Mulai Pendataan Door to Door, Wali Kota Makassar Jadi Responden Pertama
Fadli merincikan, tumpukan sampah yang menyumbat kanal tersebut sebagian besar didominasi oleh limbah domestik rumah tangga serta sisa aktivitas pasar. Sampah-sampah tersebut terbawa arus (sampah kiriman) dari wilayah hulu di Kecamatan Bontoala menuju area hilir di Kecamatan Tallo, sehingga mengendap dan menumpuk di titik perbatasan kedua kecamatan.
Guna memastikan proses pembersihan berjalan optimal, BPBD menyiagakan dan menerjunkan sedikitnya 20 personel Tim Reaksi Cepat (TRC) ke lokasi kerja, meskipun momentum tersebut bertepatan dengan kalender hari libur nasional. Langkah ini diklaim sebagai bukti keseriusan jajaran pemerintah kota dalam memulihkan daya tampung kanal.
"Meski bertepatan dengan hari libur, kesiapsiagaan personel tidak boleh kendor. Sekitar 20 anggota TRC kami instruksikan bekerja penuh di lapangan. Ini bagian dari ikhtiar mitigasi agar aliran air kanal tetap lancar dan meminimalisir potensi masalah lingkungan ataupun luapan air di kemudian hari," cetus mantan pejabat Pemkot ini.
Baca Juga : Muharram Expo 1448 H Meriah, Wali Kota Makassar Puji Kemandirian Fasilitas Warga BTP
Gagas Pembentukan KPK (Komunitas Pecinta Kanal) Sebagai Agen Pengawas
Lebih jauh, Fadli menilai sengkarut pengelolaan sampah di area kanal perkotaan tidak akan pernah tuntas secara absolut jika hanya bersandar pada langkah pembersihan oleh aparat pemerintah. Faktor pengubah paling utama sejatinya berada di tangan tingkat kesadaran kolektif masyarakat sekeliling untuk mematikan kebiasaan membuang sampah ke badan air.
Sebagai langkah solutif jangka panjang, BPBD mendorong instansi terkait untuk segera memasang sarana barrier atau jaring penahan sampah di beberapa titik simpul kanal yang strategis. Inovasi ini ditujukan agar laju sampah kiriman dapat disekat lebih awal sehingga proses evakuasi sampah ke darat menjadi lebih mudah sebelum menyebar luas.
Baca Juga : Marak Keluhan Pungutan Saat Konser, Perumda Parkir Makassar Gagas Biaya Parkir Masuk Tiket Event
"Kita tentu sangat berharap masyarakat tidak menempatkan diri sebagai objek pasif dari program kebersihan ini, melainkan bertransformasi menjadi subjek aktif yang mengawal kelestarian lingkungan tempat tinggalnya sendiri," pintanya tegas.
Untuk mengawal keberlanjutan kebersihan koridor air tersebut, Fadli melempar gagasan strategis mengenai urgensi pembentukan Komunitas Pecinta Kanal (KPK) yang berbasis di sepanjang wilayah bantaran, khususnya di wilayah perbatasan kecamatan. Kelompok swadaya ini nantinya akan mengemban mandat fungsi pengawasan lingkungan, mengedukasi warga sekitar, serta bergotong-royong memantau kondisi kanal.
"Jadi, perlu dibentuk KPK (Komunitas Pecinta Kanal). Tugas mereka nantinya berkolaborasi dengan BPBD untuk memantau pergerakan sampah di kanal. Jika memang tidak bisa meluangkan waktu ikut turun membersihkan, minimal bantu kami dengan cara jangan mengotori. Ini tanggung jawab kolektif demi lingkungan yang sehat," pungkas Fadli. (red)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News