0%
Minggu, 09 Agustus 2026 22:52

Gelombang Panas Terjang Eropa, Wisatawan Dibuat Pusing Hotel Tanpa AC

Editor : Agung
Gelombang Panas Terjang Eropa, Wisatawan Dibuat Pusing Hotel Tanpa AC
ist

Kekesalan wisatawan ini pun memicu gelombang konten viral di media sosial seperti TikTok, X, dan Reddit. Banyak di antaranya mengunggah video kamar yang gerah sembari menyindir harga sewa penginapan yang mahal di kota-kota besar seperti Paris, Roma, dan London.

PORTALMEDIA.ID - Liburan musim panas ribuan turis di Eropa berubah menjadi momen mengecewakan. Gelombang panas ekstrem yang melanda Benua Biru memaksa para wisatawan berhadapan dengan kenyataan pahit: minimnya fasilitas pendingin ruangan (AC) di kamar-kamar hotel.

Padahal, para turis telah merogoh kocek hingga ratusan euro per malam. Namun, mereka terkejut lantaran tak mendapat perlindungan memadai saat suhu udara melonjak hingga 38 sampai 40 derajat Celsius.

Kekesalan wisatawan ini pun memicu gelombang konten viral di media sosial seperti TikTok, X, dan Reddit. Banyak di antaranya mengunggah video kamar yang gerah sembari menyindir harga sewa penginapan yang mahal di kota-kota besar seperti Paris, Roma, dan London.

Tak berhenti di situ, biaya tersembunyi dari sejumlah penginapan kian memperparah situasi. Mengutip Europe Express, beberapa hotel khususnya di kawasan Eropa Selatan seperti Italia mengenakan biaya tambahan harian sekitar 10 hingga 15 euro (sekitar Rp206 ribu hingga Rp308 ribu) hanya untuk mengaktifkan fasilitas AC di kamar.

Suhu panas ekstrem melebihi 40 derajat Celsius sempat menerjang Prancis, Spanyol, dan negara-negara tetangganya pada akhir Juli lalu. Ini menjadi gelombang panas keempat yang menghantam Eropa sejak Mei.

Sejumlah studi mencatat Eropa sebagai benua dengan laju pemanasan tercepat di dunia—dua kali lipat lebih cepat dibanding rata-rata global. Meski demikian, penggunaan AC di Eropa masih sangat rendah dengan tingkat penetrasi sekitar 20 persen, jauh tertinggal dari Amerika Serikat dan Jepang yang mencapai 90 persen.

Faktor Bangunan Tua dan Aturan Ketat

Kendala utama minimnya pendingin udara di Eropa terletak pada faktor arsitektur. Banyak penginapan menempati bangunan tua yang telah berusia puluhan hingga ratusan tahun.

Melansir VN Express, merombak sistem AC modern pada bangunan berusia ratusan tahun membutuhkan biaya fantastis. Dalam banyak kasus, hal tersebut sulit dilakukan karena terhalang undang-undang perlindungan cagar budaya yang sangat ketat.

Di sisi lain, struktur bangunan tradisional Eropa pada dasarnya memang dirancang untuk menyimpan panas guna menghadapi musim dingin.

Asisten Profesor di London School of Hygiene and Tropical Medicine, Malcolm Mistry, menjelaskan kepada majalah TIME bahwa rumah-rumah di Inggris dan Prancis secara alami berfungsi "seperti tungku pemanas" saat musim panas tiba.

Bahkan jika pengelola hotel berniat memasang pendingin udara, aturan iklim Uni Eropa menjadi tantangan berikutnya. Uni Eropa menargetkan penghapusan bertahap hidrofluorokarbon (bahan pendingin AC yang memicu emisi gas rumah kaca) secara menyeluruh pada 2050 mendatang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Redaksi Portal Media menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: redaksi@portalmedia.id atau Whatsapp 081395951236. Pastikan Anda mengirimkan foto sesuai isi laporan yang dikirimkan dalam bentuk landscape
Berikan Komentar

Populer