PORTALMEDIA.id — Pusat Layanan Usaha Terpadu Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (PLUT KUMKM) Provinsi Sulawesi Selatan berkolaborasi dengan Trio Pabeta Indonesia menyelenggarakan Inclusion Hub Bootcamp bagi penyandang disabilitas di Kota Makassar. Agenda pelatihan kewirausahaan ini berlangsung selama tiga hari, mulai Kamis (1/10/2026) hingga Sabtu (3/10/2026).
Kegiatan ini diikuti oleh 60 peserta yang terdiri atas kelompok perempuan dan penyandang disabilitas. Program ini bertujuan memperkuat kapasitas keterampilan dan kemandirian ekonomi peserta guna mendorong peningkatan taraf hidup mereka secara berkelanjutan.
Inclusion Hub Bootcamp merupakan bagian integral dari program fellowship Inclusion Hub yang didukung oleh Foreign, Commonwealth & Development Office (FCDO) bersama British Council di Indonesia. Dalam pelaksanaannya, Trio Pabeta Indonesia bertindak sebagai mitra pelaksana (implementing partner) yang menggandeng PLUT KUMKM Sulsel.
Perwakilan Kepala PLUT KUMKM Sulsel, Akbarullah Puli, menyatakan komitmen penuh pihaknya dalam membuka akses seluas-luasnya bagi kelompok rentan untuk memanfaatkan sarana yang tersedia di PLUT.
"Kami berterima kasih dan mengapresiasi kolaborasi ini. PLUT sangat terbuka bagi masyarakat yang ingin mengakses fasilitas dan layanan yang ada di sini, termasuk bagi bapak dan ibu penyandang disabilitas," ujar Akbarullah saat membuka acara.
Program ini secara khusus dirancang untuk meningkatkan kapasitas alumni program Skill Inclusive Digital Participation (SIDP) melalui pendekatan belajar yang inklusif, aplikatif, dan berorientasi pada pemberdayaan potensi ekonomi.
Project Manager Trio Pabeta Indonesia, Bachtiar Baso, menegaskan bahwa pelatihan ini harus menjadi batu loncatan bagi para peserta untuk terjun ke dunia wirausaha.
"Inclusion Hub bukan sekadar kegiatan pelatihan, melainkan ruang untuk mengembangkan potensi. Kami ingin peserta tidak berhenti pada pengetahuan yang diperoleh selama tiga hari, tetapi mampu menerapkannya dalam kehidupan nyata dan aktivitas usaha masing-masing," tutur Bachtiar.
Selama agenda berlangsung, peserta dibekali materi komprehensif seputar pengembangan kewirausahaan, mulai dari legalitas dan kelembagaan usaha, perencanaan bisnis, pemasaran digital, manajemen keuangan, hingga teknik pengemasan dan branding produk.
Tidak hanya menerima teori, para peserta juga diwajibkan menyusun Simple Business Plan serta kertas kerja praktis secara berkelompok hingga hari penutupan.
Penyelenggara turut memastikan aspek inklusivitas diterapkan secara menyeluruh, mulai dari ketersediaan akses materi dan pendampingan yang ramah disabilitas, hingga penciptaan ekosistem belajar yang aman, suportif, serta bebas dari diskriminasi maupun perundungan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

