BANDA ACEH, PORTALMEDIA.ID – Kabut asap yang menyelimuti wilayah Aceh dipastikan merupakan asap kiriman akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Pulau Kalimantan serta wilayah Sumatera bagian tengah dan selatan.
Hal tersebut ditegaskan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda (SIM) Aceh Besar.
"Secara garis besar ini asap kiriman," ungkap Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I SIM Aceh Besar, Cucu Kusmayancu, dikutip dari Antara.
Cucu menjelaskan, pantauan citra satelit hanya mendeteksi tiga titik panas (hotspot) di Aceh dengan kategori sedang, tepatnya di kawasan Muara Satu, Kota Lhokseumawe. Potensi kebakaran lokal dinilai berskala kecil sehingga belum terdeteksi satelit sebagai titik panas berkategori tinggi.
Kualitas udara berdasarkan konsentrasi PM2,5 di wilayah Aceh secara umum masih bertahan pada kategori baik hingga sedang. Kendati demikian, sebaran kabut asap mulai mengganggu jarak pandang (visibility) di sejumlah bandar udara di Aceh, yang merosot jauh dari batas normal di atas 10 kilometer:
Bandara Blangkejeren (Gayo Lues): 1.000 meter
Bandara Malikussaleh (Aceh Utara): 2.000 meter
Bandara Maimun Saleh (Sabang): 3.000 meter
Bandara Sultan Iskandar Muda (Banda Aceh): 3.500 meter
Bandara Cut Nyak Dhien (Nagan Raya): 5.000 meter
Menyikapi penurunan jarak pandang dan potensi dampak kesehatan, BMKG meminta warga membatasi aktivitas luar ruangan serta mengenakan masker pelindung yang memadai saat bepergian. Pemerintah daerah bersama BPBD, TNI, dan Polri juga didorong memperkuat koordinasi penanganan lapangan seraya memantau dinamika cuaca secara berkala.
Kondisi Nasional: Kalteng Masuk Kategori Berbahaya
Secara nasional, sebaran asap karhutla masih mengepung mayoritas kawasan Sumatera, Kalimantan, Sulawesi bagian tengah hingga selatan, Maluku, hingga Papua, bahkan melintas ke Semenanjung Malaysia dan Singapura.
Tingkat polusi udara paling parah berada di Kalimantan Tengah. Konsentrasi PM2,5 di Pangkalan Bun sempat menyentuh angka 374,8 mikrogram per meter kubik dan Palangka Raya mencapai 342,8 mikrogram per meter kubik, yang menempatkan keduanya dalam kategori berbahaya.
BMKG turut merekam 478 titik panas berkepercayaan tinggi, dengan konsentrasi terbanyak berada di Sumatera Selatan sebanyak 189 titik. Di sisi lain, titik panas di Kalimantan Tengah mengalami penurunan dari 485 titik menjadi 26 titik, sementara sebaran asap tipis yang sempat mengarah ke Jabodetabek dilaporkan mulai menjauh tanpa memengaruhi mutu udara permukaan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

