PORTALMEDIA.ID, MAJENE - Menyusuri jalan yang tak selalu mulus, menyeberangi sungai, hingga berjalan kaki berjam-jam menjadi keseharian Bidan Husniati untuk melayani warga di Dusun Coci, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat.
Untuk mencapai dusun tersebut, Husniati harus menempuh perjalanan sekitar dua jam menggunakan sepeda motor, menyeberangi sungai, lalu berjalan kaki selama kurang lebih satu jam. Medan sulit tak menyurutkan langkahnya untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat pelosok.
Pengabdian Husniati menjadi bagian dari komitmen PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar) dalam mendukung kesejahteraan masyarakat.
Melalui Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN, PLN menghadirkan Program Bidan Cahaya untuk mendukung para bidan yang mengabdi di wilayah dengan keterbatasan akses pelayanan kesehatan.
General Manager PLN UID Sulselrabar, Didik Wicaksono, menyampaikan dedikasi para bidan di wilayah terpencil perlu mendapat dukungan agar masyarakat memiliki kesempatan lebih baik memperoleh pelayanan kesehatan.
"Dedikasi para bidan yang tetap hadir di tengah keterbatasan menjadi pengingat bahwa kepedulian harus menjangkau semua lapisan masyarakat. Melalui Program Bidan Cahaya yang diinisiasi YBM PLN, kami berharap dukungan ini dapat membantu para bidan menjalankan pengabdian sekaligus mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang membutuhkan," ujar Didik.
Selama sekitar enam tahun berprofesi sebagai bidan, Husniati memilih mengabdi di tanah kelahirannya. Ia melayani warga di sejumlah dusun, di antaranya Belalang, Belia, Ratte, Adolang, dan Coci. Tak hanya pemeriksaan kesehatan, ia juga memberikan edukasi mengenai kesehatan ibu dan anak serta pentingnya menjaga kebersihan.
Salah satu pengalaman yang membekas terjadi pada Jumat dini hari, 9 Oktober 2026. Husniati menerima panggilan membantu seorang ibu yang hendak melahirkan di Dusun Ratte. Bersama bidan lainnya, Masrianti, ia menyarankan agar pasien dirujuk ke Puskesmas Pamboang.
Namun keluarga sempat ragu. Husniati menghabiskan waktu hampir dua jam untuk menjelaskan pentingnya rujukan. Ambulans tidak dapat menjangkau rumah pasien, sehingga ibu tersebut harus diusung menggunakan tandu selama sekitar satu jam menuju jalan yang bisa dilalui kendaraan.
Sekitar pukul 03.00 WITA, di dalam ambulans menuju Puskesmas Pamboang, ibu tersebut akhirnya melahirkan seorang bayi laki-laki dengan berat 3.100 gram.
Sebelum bergabung dalam Program Bidan Cahaya pada Februari 2024, Husniati mengandalkan kontribusi sukarela dari pasien. Keterbatasan peralatan menjadi tantangan yang harus dihadapi.
"Saya berharap masyarakat semakin mudah mendapatkan pelayanan kesehatan, terutama ibu hamil, ibu setelah melahirkan, bayi, dan anak-anak. Semoga saya bisa terus mendampingi warga dan memberikan pelayanan terbaik, meskipun banyak keterbatasan yang harus dihadapi," ujar Husniati.
Melalui Program Bidan Cahaya, PLN UID Sulselrabar terus mendukung upaya mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat di wilayah kerjanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

