"PKS menyodorkan calon wakil presiden, Demokrat menyodorkan AHY calon wakil presiden, artinya tidak sepakat ini dua partai, kalau sepakat ini dua partai, dikerucutkan satu saja, AHY saja, atau PKS saja, berarti tambah Rumit NasDem mengajak dua partai ini, tambah Rumit juga Anies mengajak dua partai ini, begitu analisa sederhananya," sambungnya.
Bahkan, kata dia, PKS dan Demokrat juga mencoba untuk merayu koalisi dari Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang beranggotakan Golkar, PAN dan PPP dan koalisi Gerindra-PKB untuk bersatu. Kecuali PDIP, Arqam menganalisa bahwa partai berlambang kepala Banteng itu mampu mengusung sendiri capres-cawapres tanpa harus koalisi.
Bukti lain menurut Arqam, pertemuan AHY dan Anies pada 7 Oktober lalu Kantor DPP Demokrat di Jalan Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat juga tak terjadi ketegasan AHY untuk menjadi pendamping mantan Gubernur DKI Jakarta itu 2024.
Baca Juga : RMS Hengkang ke PSI, Syaharuddin Alrif Ketua NasDem Sulsel
Meski Sekretaris Majelis Tinggi Partai Demokrat Andi Mallarangeng menyebut potensi koalisi NasDem-PKS-Demokrat sudah 80 persen.
"AHY juga waktu menyambut Anies, tidak juga diperkuat kalau memang mau (berpasangan di pilpres). Artinya ini masih simulasi-simulasi, masih saling melihat-lihat," bebernya.
Gaya politik Surya Paloh berbeda dengan KIB yang membangun koalisi dulu baru mencari capres usungan. Namun dengan dideklarasikannya mantan Menteri Pendidikan, membuat Anies sendiri dikunci oleh partai besutan Surya Paloh. Padahal, kata Argam, sebenarnya dia punya nilai jual pada koalisi partai lainnya.
Baca Juga : SBY Desak Peran Aktif PBB Cegah Ancaman Perang Dunia Baru
"Kalau misalnya dia ke KIB, orang KIB bilang bereskan dulu di sana, karena sudah deklarasi," jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News