0%
Rabu, 19 Oktober 2022 17:31

Kembalikan Kejayaan Kakao di Lutra, Bupati Indah: Modal APBD Tidak Cukup

Editor : Rahma
Bupati Lutra, Indah Putri Indriani  saat memaparkan Peta Jalan Kakao Lestari 2020 - 2045 pada kegiatan Seminar Nasional Kakao Berkelanjutan di Hotel Four Point by Sheraton Makassar, Rabu, 19 Oktober 2022. (Portal Media/Rahma)
Bupati Lutra, Indah Putri Indriani saat memaparkan Peta Jalan Kakao Lestari 2020 - 2045 pada kegiatan Seminar Nasional Kakao Berkelanjutan di Hotel Four Point by Sheraton Makassar, Rabu, 19 Oktober 2022. (Portal Media/Rahma)

Hampir setengah dari PDRB pertanian didapatkan dari subsektor perkebunan, salah satunya adalah kakao.

PORTAL MEDIA.ID, MAKASSAR - Bupati Luwu Utara (Lutra), Indah Putri Indriani mengungkapkan, upaya mengembalikan kejayaan Lutra sebagai penghasil kakao terbesar di Sulsel, Indonesia secara umum, tidak cukup dengan mengandalkan anggaran yang dialokasi oleh pemerintah daerah melalui APBD dan APBN oleh pemerintah pusat.

Menurutnya perlu ada model penganggaran lain di luar dari yang dianggarkan pemerintah, guna mendorong kesejahteraan petani di Lutra."Prosesnya lama jika terus mengandalkan APBD dan APBN. Sehingga kita mengupayakan ada pendanaan dengan model lain," kata Indah saat memaparkan Peta Jalan Kakao Lestari 2020 - 2045 pada kegiatan Seminar Nasional Kakao Berkelanjutan, yang dilaksanakan di Hotel Four Point by Sheraton Makassar, Rabu, 19 Oktober 2022.

Indah memberikan contoh, misalnya dana bantuan dari Negara Perancis melalui pemerintah pusat pernah masuk di Lutra, dengan menyasar petani kakao, tetapi tidak diketahui oleh Pemda Lutra." Ini saya baru tahu, ternyata ada. Mungkin karena kerjasama antara Pemerintah Perancis dan Indonesia, kemudian ke Pemprov Sulsel. Tapi kami di daerah itu tidak tahu,"katanya.

Baca Juga : Siap-siap! BPS Bakal Rekrut 190 Ribu Petugas Sensus

Kedepan kata Indah, model pendanaan untuk kesejahteraan petani kakao di Lutra bisa dikembangkan tanpa harus melalui jalur-jalur birokrasi yang rumit di pemerintahan."Kalau bisa itu langsung melalui Pemda, sehingga bisa memotong jalur birokrasi dan manfaatnya bisa cepat dirasakan oleh petani,"katanya.

Dalam ulasannya, Indah mengungkapkan saat ini Pemda Lutra bersama dengan Icraf Indonesia telah merampungkan Peta Jalan Kakao Lestari 2020 - 2045, sebagai bentuk komitmen dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui pengembangan kakao. Mengingat, Kabupaten Lutra dikenal sebagai daerah penghasil kakao terbesar di Sulsel.

Hal ini dilihat dari PDRB Kabupaten Lutra dominan ditopang dari sektor pertanian dengan kontribusi sebesar 49 persen pada tahun 2022 (BPS, 2022). Hampir setengah dari PDRB pertanian didapatkan dari subsektor perkebunan, salah satunya adalah kakao.

Baca Juga : Munafri Bersama Kepala BPS Makassar Bahas Pembangunan Berbasis Data

"Pada tahun 2009, Kabupaten Luwu Utara memiliki sekitar 56.000 hektar kebun kakao namun saat ini berkurang sampai 40.814 hektar
(BPS, 2021)," kata Indah, pada Seminar Nasional Kakao Berkelanjutan, yang dilaksanakan di Hotel Four Point by Sheraton Makassar, Rabu, 19 Oktober 2022.

Indah menyebutkan ada tiga prinsip peta jalan kakao lestari, yakni terdiri dari skenario pembangunan, strategi, intervensi, dan indikator untuk mewujudkan visi Kakao Lestari, Rakyat Sejahtera. Terdapat lima strategi yang telah disepakati dalam peta jalan kakao lestari ini. Antara lain, alokasi dan tata guna lahan berkelanjutan, peningkatan akses masyarakat terutama petani kakao terhadap modal penghidupan, peningkatan produktivitas dan diversifikasi produk kakao, perbaikan rantai pasok yang berkelanjutan, dan insentif jasa ekosistem dari kakao berkelanjutan.

Ia menjelaskan, perkebunan kakao di Luwu Utara merupakan perkebunan kakao rakyat, yang dikelola langsung oleh petani. Adapun permasalahaan dari pengelolaan skala kecil (small holder), antara lain serangan hama penyakit tanaman yang berkontribusi pada
penurunan produktivitas, dan kualitas biji kakao yang dihasilkan petani.

Baca Juga : Mencoblos Bersama Keluarga, Abang Fauzi Berharap Kondusifitas Lutra Terjaga Hingga Penetapan

"Kecamatan dengan kebun kakao paling luas antara lain di Kecamatan Baebunta Selatan, Malangke barat, Sabbang, dan Sabbang Selatan," ujarnya.

Mewakili Icraf Indonesia, Dr Beria Leimona, mengungkapkan, dalam penyusunan peta jalan kakao ini melibatkan penta helix. Selain itu, semua ide dasarnya datang dari bawah atau botttom up.

"Icraf berharap, semua kebijakan berbasis data yang kuat. Ini tentunya yang sangat digalakkan melalui monitoring dan evaluasi. Bagaimana kabupaten bisa berkontribusi terhadap wacana perubahan iklim, dan tuntutan konsumen dalam memilih produk berkelanjutan," jelasnya.

Baca Juga : Nilai Tukar Petani Meningkat 0,38%

Ia menambahkan, Icraf memperkenalkan pengembangan kakao secara agroforestri. Dimana, petani juga bisa menanam durian, aren, hingga peternakan madu. Hal ini menjadi salah satu sistem pertanian agar petani bisa terbantu.

"Kalau hanya mengandalkan satu tanaman, ekonomi petani kita akan hancur ketika terjadi perubahan iklim. Karena itu, harus ada diversifikasi untuk menopang kehidupan ekonomi mereka menjadi lebih stabil," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Redaksi Portal Media menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: redaksi@portalmedia.id atau Whatsapp 081395951236. Pastikan Anda mengirimkan foto sesuai isi laporan yang dikirimkan dalam bentuk landscape
Berikan Komentar