0%
Minggu, 27 November 2022 19:22

Seks Berisiko Intai Remaja di Makassar: HIV hingga Aborsi Kian Marak

Penulis : Reza Rivaldi
Editor : Rahma
Ilustrasi seks berisiko yang mengintai remaja di Makassar(Portal Media)
Ilustrasi seks berisiko yang mengintai remaja di Makassar(Portal Media)

Tingginya kasus HIV/AIDS dan fenomena penemuan jasad bayi diduga merupakan hasil aborsi yang belakangan marak, merupakan alarm seks berisiko cukup tinggi terjadi di Makassar

PORTALMEDIA, ID. MAKASSAR-- Alarm perilaku seksual berisiko mengintai remaja di Makassar sudah harusnya dibunyikan. Minimnya informasi kesehatan reproduksi (Kespro) di sekolah menjadi kekhawatiran anak-anak terjerumus dalam gaya pacaran yang tidak sehat, hingga melibatkan aktivitas seksual berisiko.

Kekhawatiran itu muncul mengingat kasus penyakit menular seperti HIV (human immunodeficiency virus)/ Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) dan penemuan jasad bayi yang diduga hasil aborsi yang dilakukan secara ilegal marak terjadi di Makassar.

Sebagaimana diketahui, dalam kurun waktu tiga bulan belakangan, publik di Kota Daeng dihebohkan dengan aksi pembuangan bayi, mulai dibuang ke saluran drainase milik warga, dikubur di pekerangan rumah warga secara diam-diam, hingga berusaha dilenyapkan dengan cara dibakar.

Baca Juga : Aliyah Mustika Ilham: Pemkot Makassar Siap Berkolaborasi Tekan HIV/AIDS

Begitu juga dengan kasus HIV/AIDS di Makassar. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Makassar, sepanjang tahun 2022, sekitar 3.900 warga Kota Makassar yang terdeteksi positif HIV, dimana 70 persen diantaranya merupakan kalangan usia produktif.

Jejak Penemuan Jasad Bayi dan HIV di Makassar

Portalmedia merangkum aksi pembuangan bayi sejak kurun waktu tiga bulan terakhir atau mulai sejak September hingga November 2022. Namun, maraknya aksi pembuangan bayi itu satu pelaku pun belum juga ada yang bisa diungkapkan oleh pihak kepolisian.

Baca Juga : Pemkot Makassar dan AHF Gencarkan Edukasi dan Pengobatan HIV/AIDS

Kasus pertama terjadi awal September, tepatnya pada Jumat (2/9/2022). Saat itu, warga di Jalan Bonto Cani, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) dibuat gempar dengan penemuan jasad bayi.

Bayi malang yang sudah tidak bisa diindentifikasi jenis kelaminnya itu ditemukan oleh warga mengapung di saluran drainase kecil. Warga pun sempat mengira jasad bayi itu adalah sebuah bantal guling.

Kasus selanjutnya, warga di sekitaran kawasan Makassar Mall (eks Pasar Sentral) di Jalan KH Agus Salim, Kota Makassar, Sulsel dibuat geger dengan penemuan jasad bayi dengan kondisi mengenaskan, pada Rabu (14/9/2022) lalu.

Baca Juga : Gelar Pelatihan Jurnalistik, PKBI Sulsel Ajak Masyarakat Rajin Menulis

Saat ditemukan jasad bayi malang itu sudah berada ditumpukan sampah dan kondisi tubuhnya sudah hangus terbakar hingga jenis kelaminnya tidak dapat diidentifikasi.

Diketahui jasad bayi malang itu pertama kali ditemukan oleh beberapa anak-anak yang bermain disekitar lokasi.

Kuat dugaan jasad bayi itu sengaja dibuang oleh orang tuanya lantaran malu telah hamil di luar nikah. Warga yang pertama kali menemukan jasad bayi malang itu awal mulanya mengira mainan boneka.

Baca Juga : Wali Kota Munafri Kaji Sanksi Oknum ASN Puskesmas Terlibat Aborsi

Kasus ini pun belum terungkap lantaran minimnya bukti yang dikantongi aparat kepolisian.

"Kami masih mendalami dan melakukan penyelidikan, sudah 2 hari ini kita ambil keterangan warga sekitar TKP dan juga cek CCTV yang ada di sekitar TKP," jelas Kasat Reskrim Polres Pelabuhan Makassar, IPTU Prawira Wardany kepada awak media, belum lama ini.

 

Baca Juga : 4 Anak-anak Meninggal Dunia Akibat Terserang DBD

 

Kasus ketiga yakni penemuan jasad bayi berjenis kelamin laki-laki yang ditemukan warga di Jalan Regge, Kelurahan Rappokalling Kecamatan Tallo, Kota Makassar, Sulsel pada Kamis (6/10/2022).

Saat ditemukan bayi sudah berada di saluran drainase atau parit milik warga dengan kondisi sudah tidak bernyawa. Awalnya bayi itu dikira hanya mainan boneka oleh warga.

Sontak penemuan itu menggegerkan warga sekitar, warga yang penasaran pun langsung berdatangan dan berkerumun di sekitar lokasi penemuan bayi tersebut.

Saat ditemukan janin itu berada di dalam sebuah kardus dan tanpa sehelai pakaian yang melekat di badannya. Bayi malang itu pun juga diduga kuat sebagai hasil hubungan gelap sang orang tua.

Kasus pembuangan bayi selanjutnya yang terbilang menghebohkan kembali terjadi di dua wilayah sekaligus dalam kurun waktu yang hampir bersamaan di hari yang sama, pada Senin (21/11/2022) kemarin.

Pertama, warga Kompleks Perikanan, Jalan Balang baru, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) digegerkan dengan penemuan jasad bayi yang sudah terkubur dibungkus kain kafan.

Jasad bayi yang diketahui berjenis kelamin laki-laki itu ditemukan pertama kali warga bernama Mariati saat sedang menyapu di pekarangan rumahnya.

Saat asyik berbenah, Mariati dibuat curiga dengan tumpukan tanah menyerupai kuburan. Karena curiga, Mariati pun memanggil sejumlah tetangganya untuk mengecek gundukan tanah tersebut.

Seketika warga pun kaget ketika membongkar gundukan tanah tersebut. Isinya adalah jasad bayi tak bernyawa ditutupi menggunakan sarung kotak-kotak warna biru, dibungkus dengan plastik warna hijau, lalu dibalut dengan kain warna putih yakni kain kafan.

Kedua yakni kasus penemuan bayi malang yang sengaja dibuang di saluran drainase atau kanal yang penuh dengan tumpukan sampah di kawasan Rappokalling, Kecamatan Tallo, Kota Makassar, Sulsel.

Jasad bayi malang itu diketahui berjenis kelamin perempuan yang diperkirakan masih berusia 7 bulan. Warga yang pertama kali menemukannya pun awalnya mengira jasad bayi itu hanyalah mainan boneka.

Saat ditemukan kondisi tubuh bayi malang itu sudah sangat mengenaskan. Kondisinya sudah membengkak serta mengeluarkan bau kurang sedap.


Penggelola Program HIV Dinas kesehatan Kota Makassar, Arfianti Firman menyebutkan terdapat sekitar 65 orang dengan HIV (Odha) di Makassar yang berada di antara umur 1-14 tahun.

"65 Odha anak itu saat ini sedang menggunakan Antiretroviral (ARV) untuk mengurangi risiko penularan HIV, menghambat perburukan infeksi. Tetapi ada kemungkinan di luar ada odha anak yang belum menggunakan ARV,"katanya.


Kesehatan Reproduksi yang Tidak Diajarkan di Sekolah


Direktur Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Sulsel, Andi Iskandar Harun mengungkapkan, praktek pembuangan jasad bayi hasil aborsi lantaran kurangnya pemahaman kesehatan reproduksi di kalangan remaja masa kini

"Hal ini dipicu banyak faktor, diantaranya. Rendahnya pemahanan Kesehatan Reproduksi, akses ke informasi dan tontonan bernuansa seks mudah, kebebasan remaja putri yang tinggal sendiri (kost) diperkotaan dan faktor-faktor gaya hidup perkotaan yang menjebak Remaja pada relasi pacaran yang sudah mengarah pada kebebasan akibat lepas dari pengawasan orang tua," jelas Iskan kepada Portalmedia, Sabtu (26/11/2022).

Selain itu, kata Iskandar perilaku seks bebas hingga berujung hamil diluar nikah lantaran perempuan masa kini sudah menjadikan sebagai gaya hidup.

"Kasus ini banyak terjadi pada perempuan usia muda belum menikah dan mereka yang kesulitan secara ekonomi hingga memilih melakukan transaksi seksual sebagai jalan pintas untuk memenuhi kebutuhan hedon dan life style di perkotaan," tuturnya.

"Penyebab utama dari kasus Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) dan aborsi adalah rendahnya pengetahuan kesehatan seksual dan reproduksi terutama pada kelompok perempuan usia muda,"katanya.

Sementara Pendidikan Kesehatan Reproduksi (Kespro) masih minim diberikan kepada remaja baik kepada perempuan maupun laki-laki. Sebab edukasi seks masih dianggap sesuatu hal yang mengarah pada bagaimana mengajarkan seks kepada remaja.

Padahal menurut Iskandar pendidikan seks adalah memberikan pemahaman agar remaja menghindari seks berisiko, menghargai tubuhnya dan masa depannya," Termasuk konstruksi ke 'Tabu'-an di masyarakat bahkan dianggap pelegalan seks bebas itu masih jadi hambatan," Sambung Iskandar.

Iskandar menyebutkan bahwa pendidikan kesehatan reproduksi idealnya diajarkan sejak dini terkhusus para wanita muda yang masih duduk di bangku sekolah.

"Pendidikan Kespro harus didesakkan masuk dalam kurikulum sekolah (SLTP/SLTA) sebagai tindakan pencegahan prilaku seks yang tidak aman dan berdampak pada Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) bahkan tindakan Aborsi (Provocatus)," ucapnya.

Dirinya juga memberikan saran kepada pemerintah agar pendidikan terkait kesehatan reproduksi itu bisa menjadi materi pendidikan wajib di sekolah.

"Mendorong agar pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi menjadi bagian dari pendidikan wajib untuk remaja sekolah usia 10-24 tahun agar mereka bisa bersikap dan mampu mengambil tindakan bertanggung jawab atas tubuh dan keberlangsungan hidupnya," tukasnya.

 

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Redaksi Portal Media menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: redaksi@portalmedia.id atau Whatsapp 081395951236. Pastikan Anda mengirimkan foto sesuai isi laporan yang dikirimkan dalam bentuk landscape
Berikan Komentar
Populer