PORTALMEDIA. ID, MAKASSAR- Badan Perencanaan dan Penelitian Pembangunan Daerah (Bapelitbanda) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) mengapresiasi Peneliti muda lanskap yang tergabung dalam Inkubator Peneliti Muda Lanskap (IPML) The International Centre for Research in Agroforestry (Icraf).
Tim peneliti Balitbanda Sulsel, Alham R. Syahruna mengatakan, kehadiran 38 peneliti muda lanskap di desa-desa memperkuat kolaborasi antara pemerintah dengan lembaga non-pemerintah.
Seperti World Agroforestry (ICRAF) Indonesia, yang hadir di Sulawesi Selatan melalui proyek penelitian aksi Sustainable Landscape for Climate Resilient Livelihoods (Land4Lives) in Indonesia atau #lahanuntukkehidupan.
Baca Juga : Dorong Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Sulsel, ICRAF dan Pemprov Sulsel Libatkan Sejumlah Lembaga
“Melalui Walanae Festival ini, saya ucapkan terima kasih dan selamat kepada 38 peneliti muda yang terlibat, yang telah menghasilkan inovasi baru untuk kita semua. Pesan saya, teruslah bekerja dan berkarya,” kata Alham, Kamis, (1/12/2022) di Bikin-bikin Creative Hub, Nipah Mall, Makassar.
Pemerintah provinsi lanjut Ilham telah melakukan upaya-upaya untuk beradaptasi pada perubahan iklim melalui berbagai program dan kegiatan, namun hasil yang dicapai belum sesuai dengan yang diharapkan.
"Oleh karena itu kolaborasi para pihak antara pemerintah dan lembaga non pemerintah sangat diperlukan sebagai aksi nyata terhadap upaya mitigasi dan adaptasi untuk mengurangi risiko dampak bencana, " urainya.
Baca Juga : Buat Pemetaan Isu Strategis, DLHK Sulsel Gandeng ICRAF Gelar Konsultasi Publik 2025 – 2045
Diketahui, Walanae Fest merupakan tahapan akhir dari project IPML Sulsel. Dimana kegiatan ini menampilkan temuan awal lapangan terkait sumber penghidupan, tutupan lahan, dan sistem usaha tani terkhusus pada kawasan sepanjang DAS Walanae tepatnya di Kabupaten Bone.
Koordinator Proyek Land4Lives Provinsi Sulsel, Muhammad Syahrir menambahkan bahwa kegiatan Walanae Fest sebagai rangkaian kegiatan IPML yang menjadi media kreativitas para peneliti muda Sulsel.
"Selama kurang lebih 3 bulan mengikuti kegiatan IPML dengan mengambil lokasi Landscape DAS Walanae di Kabupaten Bone, kegiatan ini tentunya sebagai media dalam menyampaikan hasil tulisan berdasarkan observasi yang telah dilakukan dengan beberapa isu antara lain perubahan iklim, ketahanan pangan dan kesetaraan gender," bebernya.
Baca Juga : Pemprov Sulsel Gandeng ICRAF Wujudkan Ekonomi Hijau dalam Pembangunan
Ia berharap Walanae Festival bisa membawa pesan kepada masyarakat tentang kegelisahan dalam menghadapi perubahan iklim yang memiliki dampak yang luar biasa. "Sehingga kita semua bisa mengambil langkah-langkah adaptasi dan mitigasi dalam menghadapi perubahan iklim," harapnya.
Sementara, peneliti muda lanskap Fitri Ramdayani Mahmud berharap kegiatan ini bisa munumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan serta menambah wawasan terkait pentingnnya pemahaman akan dampak perubahan iklim.
"Karena hal tersebut kian terasa terutama bagi masyarakat yang memanfaatkan lahan sebagai sumber penghidupannya," katanya.
Baca Juga : Pemprov Sulsel Gandeng ICRAF Wujudkan Green Economy
Ketua Walanae Festival, Muhammad Aliafid, mengatakan tema dari kegiatan iberasal dari nama Daerah Aliran Sungai melalui desa-desa.
"Poin penting dalam ekshibisi ini mengangkat Isu terkini Perubahan Iklim, Ketahanan Pangan dan Kesataraan gender berbasis lahan," pungkasnya, Selasa (30/11).
Tidak hanya itu, ia juga menjelaskan bahwa kegiatan ini akan ada Talkshow dan Sharing Sessions, Pameran Foto, Pameran karya tulis PML 2022 dan tentunya hiburan bagi pengunjung.
Baca Juga : Dukung Penghidupan Tahan Iklim 3 Provinsi di Indonesia, Pemerintah Canada Salurkan Rp 189 Miliar
"Pengangkatan isu tersebut diharapkan pengunjung menambah wawasan dan peduli terhadap pengelolaan lahan berbasis Agroforestri." harapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News