0%
Selasa, 06 Desember 2022 14:12

Teater Riset dari Kala Teater; Kritik Warga Kota Makassar Terperangkap Dalam Oven Kompor, Pemerintah Tutup Kuping

Penulis : Firda
Editor : Azis Kuba
Penampilan teater dari Kala Teater Teater Arena Gedung Kesenian Societein De Harmonie, Kota Makassar, Senin (05/11/2022) malam (firda/portalmakassar)
Penampilan teater dari Kala Teater Teater Arena Gedung Kesenian Societein De Harmonie, Kota Makassar, Senin (05/11/2022) malam (firda/portalmakassar)

Pementasan Kala Teater ini bertajuk "Proyek Kota dalam Teater [City in Theatre Project]" menyajikan tiga babak pertunjukan yang merupakan hasil riset, kata Shita. Pertama "Perangkap Kata-kata", "Di Seberang Kekacauan", dan "Bunyi Warga" dalam durasi hingga 120 menit lebih.

Pada persentase tersebut menunjukan angka kriminalitas di Kota Makassar dari tahun 2021-2022. Setidaknya tercatat 432 kasus penganiyayaan, 1.326 pencurian, 57 kasus penipun, 1564 terjerat narkoba, 90 kejahatan seksual dan lima pembunuhan.

Shinta menganalogikan pot bunga yang dipegang aktor merupakan sebuah simbol pengharapan dan wanita yang membawa dupa sebagai ibu semesta.

"Kami mempertemukan kekacauan dengan harapan, jadi bagaimanapun kekacauan itu harapan selalu tempat yang lebih tinggi. Itulah mengapa aktor yang menyanyi naik ketempat yang lebih tinggi," ucap perempuan alumni Sastra Inggris Universitas Hasanuddin ini.

Baca Juga : Disdikbud Latih 40 Tenaga Pendidik dalam Bidang Seni Budaya

"Karena kehidupan dan harapan itu dilahirkan sama perempuan sama ibu, jadi kita pengen ada sosok ibu di sana mendoakan makassar," terangnya wanita yang telah dianugerahi Celebes Award (2007) di bidang teater oleh pemerintah Sulawesi Selatan.

Ia juga berharap melalui presentasi angka kriminalitas yang disampaikan melalui proyektor membuat warga lebih perhatian dengan tingginya tingkat kriminalitas di Makassar.

Teater riset, menampilkan data kriminalistas di Makassar (foto: Azis)

Baca Juga : Pementasan Postpartum: Fokus Perkenalkan Isu Depresi Setelah Melahirkan

Babak Bunyi Warga: Pemerintah Tutup Kuping
Babak ke tiga ini, penonton alihkan posisinya dengan berputar balik. Mereka diarahkan pada kursi, meja dan net bulutangkis yang disorot lampu. Kemudian datangah seorang perempuan, duduk di bangku itu sesekali menyembunyikan kepalanya sambil memompa ASI (Air Susu Ibu).

Saat perempuan memompa ASI, terdengar suara dari pandangan warga kepada Pemerintah Kota Makassar melalui pembesar suara. Silih berganti sejumlah warga menjawab pertanyaan "Apa yang akan ingin katakan bila bertemu pemerintah kota?" 

Jawabannya bermacam-macam. Mulai dari Warga minta pemerintah untuk tidak terlalu banyak membuat program dengan berbagai slogan-slogan hingga "Kenapa gaji staf khusus lebih besar dari pada pegawai sipil di Kota Makassar?"  

Baca Juga : Pementasan Kala Teater Ditutup dengan Diskusi yang Menghadirkan Aan Mansyur

Di tengah riuh pandangan penonton kepada sosok ibu yang sibuk memompa asi tadi, pemain lain masuk mengenakan pakaian olahraga yang hendak bermain bulutangkis tanpa melihat kondisi sekitar. Mereka terus saja bermain bulutangkis tanpa peduli bahwa ada ibu yang sedang menyusui di pinggir lapangan.

"Percuma (bertemu pemerintah), karena sepertinya mereka tidak akan mendengar kita, " ujar salah satu suara warga.

Baca Juga : Kembali Pentas di Gedung Kesenian Makassar, Kala Teater Angkat Isu Warga Kota

Penampilan para pemaian pada babak ketiga berjudul "Bunyi Warga" (foto: Firda)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Redaksi Portal Media menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: redaksi@portalmedia.id atau Whatsapp 081395951236. Pastikan Anda mengirimkan foto sesuai isi laporan yang dikirimkan dalam bentuk landscape
Berikan Komentar

Populer