0%
Selasa, 06 Desember 2022 14:12

Teater Riset dari Kala Teater; Kritik Warga Kota Makassar Terperangkap Dalam Oven Kompor, Pemerintah Tutup Kuping

Penulis : Firda
Editor : Azis Kuba
Penampilan teater dari Kala Teater Teater Arena Gedung Kesenian Societein De Harmonie, Kota Makassar, Senin (05/11/2022) malam (firda/portalmakassar)
Penampilan teater dari Kala Teater Teater Arena Gedung Kesenian Societein De Harmonie, Kota Makassar, Senin (05/11/2022) malam (firda/portalmakassar)

Pementasan Kala Teater ini bertajuk "Proyek Kota dalam Teater [City in Theatre Project]" menyajikan tiga babak pertunjukan yang merupakan hasil riset, kata Shita. Pertama "Perangkap Kata-kata", "Di Seberang Kekacauan", dan "Bunyi Warga" dalam durasi hingga 120 menit lebih.

PORTALMEDIA.ID, MAKASSAR -- Penampilan lima orang berbaju merah menyala begitu tidak lazim dan aneh. Panampakannya terlihat seperti robot. Kepalanya tersembunyi di balik kotak oven kompor pemanggang kue. Sesekali mereka membuka pintu oven itu, lalu bercerita keresahan, kritikan dan cibiran dari warga Kota Makassar.

Begitulah penampakan lima orang pemaian teater di area pementasan muncul dari kegelapan dan keheningan Teater Arena Gedung Kesenian Societein De Harmonie, Kota Makassar, Senin (05/11/2022) malam yang disaksikan Portalmedia.ID. Lima orang berkepala oven kompor itu berjalan di sepanjang lorong.

Secara bergantian membuka tutup oven lalu bercerita dan menutup lagi setelah mengungkapkan kata-kata keresehan hingga kritikan warga kota kepada Pemerintah Kota Makassar, mulai dari mahasiswa yang memprotes jalan bercat kuning untuk penyandang disabilitas.

Baca Juga : Disdikbud Latih 40 Tenaga Pendidik dalam Bidang Seni Budaya

Cerita cibiran Makassar sebagai Kota Dunia yang hanya slogan, persoalan banjir yang tak kunjung hilang di kala musim hujan, kemacetan yang tak berkesudahan, keresahan proyek galian atau perbaikan jalan di beberapa titik yang membahayakan pengendara dan bikin macet, parkir liar, trotoar yang difungsikan untuk berjualan hingga tak nyaman dipakai pejalan kaki.

Saat pemain pria bercerita soal proyek stadion kebanggaan warga kota Makassar, Stadion Mattoangging yang tak kunjung dibangun setelah diratakan tanah. Reaksi semua pemain seperti kepanasan dan menciptakan kekacauan dengan pemukul-mukul kepalanya yang terperangkap dalam oven.

Penampilan para pemaian dengan oven kompor di kepala mereka (foto: Azis)

Baca Juga : Pementasan Postpartum: Fokus Perkenalkan Isu Depresi Setelah Melahirkan

Selain kritikan yang ditujukan kepada pemerintah, pemain juga bercerita soal pertanyaan 'apa yang membuatnya bahagia tinggal di Kota Makassar?'. Cerita kuliner, mall, tempat wisata hingga jalinan persaudaraan yang masih kuat di tanah Sulawesi Selatan menjadi cerita disela cibiran dan kritikan itu.

Penulis naskah dan sutradara Kala Teater, Shinta Febriany, menjelaskan jika makna dari oven kompor yang menutupi wajah aktor ialah keterperangkapan, seperti pendapat-pendapat warga yang tidak terlalu didengarkan, dimana hanya ada corong resmi untuk itu.

Cerita-cerita dari pemain berkepala oven kompor itu sejatinya adalah jawaban dari pertanyaan yang diajukan Shita kepada sekitar 300 warga Kota Makassar.

Baca Juga : Pementasan Kala Teater Ditutup dengan Diskusi yang Menghadirkan Aan Mansyur

"Jadi kita mensurvei sekitar 300 responden yang merupakan warga kota Makassar untuk tau bagaimana perasaan serta keresahan mereka terhadap kota Makassar " ujar Shinta, usai pertunjukan itu.

Pementasan Kala Teater ini bertajuk "Proyek Kota dalam Teater [City in Theatre Project]" menyajikan tiga babak pertunjukan yang merupakan hasil riset, kata Shita. Pertama "Perangkap Kata-kata", "Di Seberang Kekacauan", dan "Bunyi Warga" dalam durasi hingga 120 menit lebih.

Pertunjukan pemain berkepala oven kompor adalah "Perangkap Kata-kata" menyajikan perasaan warga tentang kotanya.

Babak Di Seberang Kekacauan: Angka Kriminalitas Tinggi
Beralih ke pertunjukan dengan judul "Di Seberang Kekacauan" adalah seni pertunjukan berbasis riset yang mempresentasikan angka kriminalitas di Kota Makassar.

Baca Juga : Kembali Pentas di Gedung Kesenian Makassar, Kala Teater Angkat Isu Warga Kota

Diawali kemunculan seorang laki-laki berjas hitam menyanyikan lagu pengharapan sambil memegang pot bunga. Berjalan berlahan menuju tangga hingga ke atas arena pementasan.

Kemudian diikuti seorang wanita yang membawa dupa dan dua aktor lain sambil membawa pot bunga.

Lagu terus dinyanyikan dan pemain lain bergantian menjelaskan angka kriminalitas yang terjadi di Kota Makassar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Redaksi Portal Media menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: redaksi@portalmedia.id atau Whatsapp 081395951236. Pastikan Anda mengirimkan foto sesuai isi laporan yang dikirimkan dalam bentuk landscape
Berikan Komentar
Populer