0%
Rabu, 04 Januari 2023 18:52

Donat Tuli, Lebih dari Makna tak Mendengar: Pemberdayaan hingga Bangkitkan Kepercayaan Diri Teman Difabel

Penulis : Gita Oktaviola
Editor : Rasdiyanah
Cafe Mella, cafe yang menjajakan donat yang diperkenalkan dengan nama Donat Tuli. Foto: Portalmedia.id/Gita
Cafe Mella, cafe yang menjajakan donat yang diperkenalkan dengan nama Donat Tuli. Foto: Portalmedia.id/Gita

Cafe Malla, sebuah cafe di Jalan Sunu Kota Makassar, memperkenalkan jajanan bernama Donat Tuli. Bukan tanpa sebab nama ini diambil, setelah memasukinya mulai dari pramusaji, pembuat donat, hingga owner dari cafe ini adalah penyandang disabilitas.

"Alhamdulillah saya bersyukur karena ada tempat yang bisa menampung saya bekerja untuk membantu ekonomi keluarga," tambahnya.

Ditanya mengenai kesulitan dan solusi melayani pelanggan dengan keterbatasan disabiitas, Asma tersenyum, ia mengambil sebuah buku dan pulpen lagi.

Setiap kali mereka melayani pembeli, diakuinya hal tersebut memberikan mereka kesempatan untuk berinteraksi dengan pelanggan. Hal ini, menurut Asma, bisa meningkatkan kepercayaan diri mereka dalam menjalani hidup dan meningkatkan kemampuan kerja mereka.

Baca Juga : Pemkot Makassar Fasilitasi Pelatihan untuk 22 Difabel, 9 Perusahaan Siap Rekrut

Perempuan 30 tahun tersebut menunjukkan sebuah dapur yang ditempati membuat donat dan kue bolu. Sore itu kebetulan ia ditemani beberapa rekannya difabel lainnya.

Ada yang sedang menyusun dos, ada yang menata susunan donat serta kue bolu dalam etalase kaca. Ada pula yang sedang membuat adonan di dapur.

Dari Jualan Donat Per Biji hingga Bangun Cafe

Owner Cafe Mella, Ramlah

Baca Juga : Total Latihan Hanya 10 Jam, Pementasan Teater 10 Penyandang Disabilitas Makassar Mendapat Apresiasi dari HWDI

Pemilik cafe ini didirikan oleh perempuan bernama Ramlah. Perempuan yang sangat ramah dan aktif menebar senyum ini senantiasa menyapa pengunjung yang datang di tokonya.

Ramlah pun bukan sosok perempuan biasa, ia sosok perempuan tangguh. Ia mampu menerobos stigma masyarakat dalam budaya patriarki, juga mampu menerobos stigma keterbatasan penyandang disabilitas. 

Ramlah bercerita, pada 2009 silam, Ia mulai membuat donat. Karena kesulitannya berbicara, Ia memiliki ide untuk menitip donat buatannya di warung-warung. Hal itu ia lakukan selama setahun.

Baca Juga : Cerita Dibalik Proses Latihan Teater Penyandang Disabilitas Makassar Sebelum Pementasan di Societeit De Harmonie

Selama setahun tersebut, Ramlah mengumpulkan uang dan menabung untuk membuat cafe yang bisa memberdayakan teman difabel lainnya yang seperti dirinya.

Hingga di tahun 2010, mimpinya terwujud, Ia berhasil membuat kediamannya di Jl Sunu menjadi sebuah cafe, yang menjajakan donat dan bolu. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Redaksi Portal Media menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: redaksi@portalmedia.id atau Whatsapp 081395951236. Pastikan Anda mengirimkan foto sesuai isi laporan yang dikirimkan dalam bentuk landscape
Berikan Komentar