"Alhamdulillah saya bersyukur karena ada tempat yang bisa menampung saya bekerja untuk membantu ekonomi keluarga," tambahnya.
Ditanya mengenai kesulitan dan solusi melayani pelanggan dengan keterbatasan disabiitas, Asma tersenyum, ia mengambil sebuah buku dan pulpen lagi.
Setiap kali mereka melayani pembeli, diakuinya hal tersebut memberikan mereka kesempatan untuk berinteraksi dengan pelanggan. Hal ini, menurut Asma, bisa meningkatkan kepercayaan diri mereka dalam menjalani hidup dan meningkatkan kemampuan kerja mereka.
Baca Juga : Pemkot Makassar Fasilitasi Pelatihan untuk 22 Difabel, 9 Perusahaan Siap Rekrut
Perempuan 30 tahun tersebut menunjukkan sebuah dapur yang ditempati membuat donat dan kue bolu. Sore itu kebetulan ia ditemani beberapa rekannya difabel lainnya.
Ada yang sedang menyusun dos, ada yang menata susunan donat serta kue bolu dalam etalase kaca. Ada pula yang sedang membuat adonan di dapur.
Dari Jualan Donat Per Biji hingga Bangun Cafe

Pemilik cafe ini didirikan oleh perempuan bernama Ramlah. Perempuan yang sangat ramah dan aktif menebar senyum ini senantiasa menyapa pengunjung yang datang di tokonya.
Ramlah pun bukan sosok perempuan biasa, ia sosok perempuan tangguh. Ia mampu menerobos stigma masyarakat dalam budaya patriarki, juga mampu menerobos stigma keterbatasan penyandang disabilitas.
Ramlah bercerita, pada 2009 silam, Ia mulai membuat donat. Karena kesulitannya berbicara, Ia memiliki ide untuk menitip donat buatannya di warung-warung. Hal itu ia lakukan selama setahun.
Selama setahun tersebut, Ramlah mengumpulkan uang dan menabung untuk membuat cafe yang bisa memberdayakan teman difabel lainnya yang seperti dirinya.
Hingga di tahun 2010, mimpinya terwujud, Ia berhasil membuat kediamannya di Jl Sunu menjadi sebuah cafe, yang menjajakan donat dan bolu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News