Hari demi hari, ia mengumpulkan teman-teman yang ingin sama-sama bekerja di cafe miliknya. Beberapa anak muda pun mulai ikut. Hingga hari ini, Ramlah mempekerjakan 13 orang teman tunarungu dan tunawicara.
"Di awal tahun bisa dibilang keuntungan masih sangat tipis dan pegawai saya masih sedikit, tapi saya tetap sabar dan menekuni hal tersebut," kata perempuan kelahiran Ujung Pandang, 15 Desember 1973 ini.
Dengan mata berkaca-kaca penuh semangat Ramlah bercerita jika Ia tak ingin dipandang berbeda di lingkungannya, hal ini pula yang Ia ingin sampaikan kepada teman-teman yang memiliki nasib dengan keterbatasan yang sama.
Rumah Teman-teman Difabel
Baca Juga : Pemkot Makassar Fasilitasi Pelatihan untuk 22 Difabel, 9 Perusahaan Siap Rekrut
Usaha cafe dan donat miliknya kini telah menjadi salah satu tempat dan makanan yang difavoritkan orang-orang. Dan hingga kini, toko donat itu telah berubah nama menjadi 'Donat Tuli'.
"Alhamdulillah, ada kebanggan tersendiri karena bisa membuat cafe sebagai rumah dan menghidupi teman-teman difabel," katanya.
"Kalau di cafe, cara pesannya bisa ditulis di kertas saja pesanannya dan diberikan pada pelayan," kata Ramlah menjelaskan cara pemesanan di cafenya.
Sejahterakan Teman Difabel
Sama dengan motto hidup sebagian besar teman difabel, "Hidup akan terasa ringan jika kita mensyukuri, mari bergerak dan tunjukkan prestasi", begitu pula pegangan Ramlah.
Usaha donat yang diberi nama 'Donat Tuli' itu membuatnya bersyukur karena masih bisa merangkul teman-temannya untuk bergerak bersama.
Katanya, niat dan tekad yang dijunjungnya untuk memberdayakan teman-teman tuli agar mendapatkan pekerjaan yang layak. Sebab, akan sulit bagi mereka untuk mengantre perekrutan karyawan untuk pekerjaan formal di lingkup pemerintahan.
"Makanya, sampai sekarang saya konsisten dan komitmen membangun usaha ini agar kami sama-sama bisa menyejahterakan hidup dari keterlibatan dan kebutuhan ekonomi," tuturnya.
Ia juga membagikan tips membangun usaha yang dianggapnya akan membuat teman tuli (tunarungu) bisa tetap bersemangat dalam kerja tim.
"Jadi, kami itu membangun komunikasi kerja tim sales dan tim produksi. Selain itu, kami juga setiap bulan memasang target dan membuat standar operasional. Supaya kami semua dapat bekerja profesional dalam tim," bebernya.
Baca Juga : Penyandang Disabilitas Makassar Pentaskan "Sepuluh Cerita-cerita di Atas Panggung"
"Dari kerja keras itu, kami bisa menghasilkan keuntungan hingga 10 hingga 30% per bulannya," tambahnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News