PORTALMEDIA.ID, MAKASSAR — Pemberitaan soal pembunuhan bocah yang melibatkan 2 remaja di Makassar berseliweran di media mainstream dan media sosial.
Di antara banyaknya media yang mewartakan, tidak sedikit yang menyebut secara lengkap nama pelaku dan korban pembunuhan.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak Kota Makassar (DP3A), Achi Soleman menyesalkan fakta itu. Baik nama korban dan pelaku, menurutnya tidak perlu ditulis secara lengkap.
Baca Juga : Pelaku Pembunuhan Pria di Makassar Ditangkap, Motifnya Tak Terima Dipukul Saat Melerai
“Terkait pemberitaan, ini kan media banyak mengutip bucket polisi yah. Kalau polisi wajar saja tidak diinisialkan, kalu pemberitaan media kan ada kode etik,” ungkapnya kepada Portalmedia.id, Selasa (10/01/2023).
Achi menyebutkan, pemberitaan demikian akan berdampak pada keluarga korban. Juga pada pelaku, karena track recordnya akan terekam jelas dalam jejak digital.
Walau demikian, ia menegaskan tidak melarang media mewatakan peristiwa itu. Ia bahkan menyebut penting bagi masyarakat mengetahuinya.
Baca Juga : Tak Hanya Habisi Ibu Mantan Kekasih, Pria Di Makassar Perkosa Putri Korban 4 Kali
“Melihat adanya pemberitaan itu kan kasihan keluarganya. Ada track recordnya. Tapi itu mesti diberitakan, kenapa? Supaya masyarakat tahu, begitu banyak aksi kekerasan hadir yang bahkan anak-anak sekali pun bisa melakukan kekerasan terhadap anak sendiri,” terangnya.
Diberitakan sebelumnya, seorang anak laki-laki FS (11) menjadi korban pembunuhan. FS diculik dan dibunuh oleh dua orang remaja bernama AD (17) dan MF (14).
Kapolsek Panakkukang Kompol Azis kepada awak media membenarkan, korban yang masih berusia 11 tahun ditemukan sudah meninggal dunia di Waduk Nipa-Nipa, Maros.
Baca Juga : Kekerasan Seksual Dominasi Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan di Makassar
Saat ini, kedua pelaku telah diringkus dan diamankan di Polrestabes Makassar. Kedua pelaku mengaku melancarkan aksinya untuk menjual organ dalam korban di salah satu situs online.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News