0%
Minggu, 22 Januari 2023 20:54

QRIS Melawan Tradisional Pasar, Dirangkul namun Diacuhkan

Penulis : Gita Oktaviola
Editor : Rasdiyanah
Pedagang sayuran di Pasar Pa'baeng-baeng difasilitasi pembayaran nontunai QRIS. Foto: Portalmedia.id/Gita
Pedagang sayuran di Pasar Pa'baeng-baeng difasilitasi pembayaran nontunai QRIS. Foto: Portalmedia.id/Gita

Di beberapa pasar tradisional di Makassar saat ini, sebutlah Pasar Pa'baeng-baeng telah hadir pajangan opsi pembayaran QRIS atau opsi layanan transaksi nontunai yang memang menjadi program digitalisasi dari perbankan dan pemerintah. Namun, efektifkah kehadiran akrilik QRIS atau barcode ini mendigitalisasi pasar tradisional?

PORTALMEDIA.ID, MAKASSAR - Jumat (6/1/22). Siang itu, cuaca kurang bersahabat. Hujan lebat disertai angin kencang memang mendominasi beberapa hari terakhir, bahkan sejak Desember lalu. Hingga memasuki Januari, tercatat sudah 3 pohon tumbang yang tak tanggung-tanggung juga menelan korban jiwa.

Tak terkecuali siang itu, hujan dan angin kencang pun masih mengguyur Kota Makassar. Cuaca yang tak baik ini pun cukup berpengaruh pada aktivitas di pasar tradisional, termasuk di Pasar Pa'baeng-baeng, salah satu pasar yang biasanya ramai dikunjungi pembeli setiap harinya di Kota Daeng.

Dari jauh, terlihat puluhan kios berjejer. Mirip pasar tradisional pada umumnya, berbagai kebutuhan rumah tangga ada di sana, seperti sayur-mayur, minyak goreng, rempah-rempah, dll.

Baca Juga : Modus Asmara Palsu Makan Korban, OJK Ungkap Kerugian Love Scam Rp49,19 Miliar

Yang sedikit berbeda dan menarik perhatian adalah kehadiran akrilik QRIS di setiap kios, terpampang di depan, yang memang sangat memudahkan mata pembeli menangkapnya sebagai pesan bahwa kios tersebut juga melayani transaksi nontunai.

Akrilik QRIS yang biasanya dijumpai di kafe dan di mall. Pemandangan ini sontak menawarkan pemikiran bahwa Pasar Pa'baeng-baeng tak lagi setradisional pada umumnya. Pasar ini telah disentuh digitalisasi perbankan, yang memudahkan pembeli dalam bertransaksi tanpa harus mengeluarkan uang kes atau uang tunai.

Seorang pedagang paruh baya, Rosi (70), menyapa penulis dengan ramah. Ia menawarkan rempah-rempah yang Ia jual.

Baca Juga : FC Barcelona Resmi Gandeng BRI hingga 2027

"Singgahki beli nak," ujarnya dalam dialek khas Makassar, sambil menunjuki jualannya.

Setelah memilih lombok dan sejumput bawang merah, penulis menawarkan pembayaran lewat transaksi digital berupa QRIS. Namun, raut wajah bingung diperlihatkan oleh perempuan yang tak lagi muda itu. Ia merespons dengan diam sejenak, seperti tak tahu harus menjawab apa.

Ketidaktahuannya soal digitalisasi membuatnya harus menolak tawaran pembelian nontunai yang penulis tawarkan.

Baca Juga : OJK Siapkan Jurus Dorong Pertumbuhan Kredit di Tahun 2026

"Uang biasamo nak," katanya menawarkan proses transaksi manual, transaksi pada umumnya yang selalu Ia lakukan sehari-hari.

Saat ditanya tentang program transaksi digital yang digalakkan oleh Perusahaan Daerah (PD) Pasar Makassar bersama sejumlah perbankan tempo hari, Rosi secara jujur mengatakan memang Ia tak tahu-menahu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Redaksi Portal Media menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: redaksi@portalmedia.id atau Whatsapp 081395951236. Pastikan Anda mengirimkan foto sesuai isi laporan yang dikirimkan dalam bentuk landscape
Berikan Komentar
Populer