“Nek tadi angkat ayam ka, battalanya sepuluh ayam ku angkat, di sinimi ayam (sambil menunjuk tangan kanan, di sini mi ikan (menunjuk tangan kiri) disini juga beras (kemudian menunjuk pundak), baru berapaji nakasihkan, 5000 ji,” tiru Aminah memperagakan yang dikeluhkan Dewa saat itu.
Dengan penghasilan mulai dari Rp 15.000 sampai 20.000 itu, kata Aminah, kadang Dewa gunakan untuk bermain di Warung Internet (Warnet) dekat rumah, hal itu bukan tanpa alasan, ia memang tidak memiliki Handphone. Seperti anak seusianya Film Animasi seperti Boboboy, Upin-ipin dan Naruto menjadi tontonan kesukaannya.
“Lama sekali mi kasihan dijanji Hp sama mamanya, tapi sampai sekarang tidak ada dikirim-kirim, sampai Dewa pergi tidak ada sampai itu HP yang dijanjikan,” ucap Aminah yang sehari-hari bekerja sebagai buruh cuci di rumah warga sekitar itu.
Baca Juga : Pelaku Pembunuhan Bocah 10 Tahun Peragakan 35 Adegan, Sempat Beli Rokok untuk Tenangkan Diri
“Pernah juga Dewa bawa pulang kaki ayam, dia beli dari hasil kerjanya. Dia masak itu kaki ayam , buatkan lombok terus dia makan dan bagi sama saudara-saudaranya di rumah, tidak pernah dia pusing dan repotkan kami,” sambungnya.
Tingkah yang Tidak Biasa dari Dewa di Hari Terakhirnya
Tidak hanya memberi sikap yang berbeda kepada neneknya, Dewa juga bertingkah tidak seperti biasanya di pasar. Ketika selesai membantu pedagang menjagakan jualannya, ia langsung pergi setelah diberi makan bakso, dan ia berucap kepadanya bahwa tidak akan kembali lagi untuk membantu di pasar.
Tak disangka, semua kisah itu sekarang menjadi kenangan bagi Aminah dan keluarga besar, sosok anak yang mandiri itu pergi meninggalkan mereka dijemput oleh seorang pesepeda motor di sore menuju Adzan magrib pada hari minggu, di tengah ramainya orang beraktivitas di jl. Batua Raya kala itu.
Tergiur dengan Rp 50.000
Baca Juga : Orang Tua Pelaku Pembunuhan Bocah 10 Tahun di Makassar Hidup Terlantar dan Diasingkan Keluarga
Dewa diiming-imingi uang Rp 50.000 untuk membersihkan rumah, tak pikir panjang ia langsung berminat karena nominal yang cukup besar baginya.
Walaupun ia sempat turun kembali dari motor untuk mengajak sepupunya yang bernama Alif, namun sepupunya tersebut tidak ingin ikut, karena telah memiliki trauma sebelumnya tentang dibonceng orang asing.
Dewa pergi meninggalkan Alif di depan pasar swalayan itu, duduk dengan entengnya karena akan mendapatkan tambahan pemasukan tanpa berpikir akan kehilangan nyawanya.
Baca Juga : Dalami Aksi Perusakan Rumah Pelaku Pembunuhan Bocah 10 Tahun di Makassar, Polisi Sisa Tunggu Laporan
Nahas, ajakan Dewa agar Alif ikut bersamannya merupakan perbincangan terakhirnya sebelum Dewa diajak untuk ke rumah orang yang meminta bantuannya untuk membersihkan rumah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News