Beberapa jam tidak kembali, Alif datang ke rumah nenek dan kakek sambil menangis meminta untuk mencari Dewa. Alif menjelaskan dengan sesegukan bahwa Dewa dibonceng oleh seorang anak remaja yang memiliki badan bongsor menggunakan sepeda motor dan tak kunjung kembali.
Tanpa basa-basi, keluarga dengan cepat mencari korban di daerah sekitar. Setelah waktu Magrib menjelang Isya, keluarga terus mencari dan mendapatkan remaja yang membonceng Dewa terakhir kali, bernama Adrian.
Kakek Dewa, Jamaluddin bertanya kepada nya, di mana ia membawa dan menyimpan cucunya, tetapi dengan santai dan percaya diri ia mengatakan menurunkan Dewa di depan Kantor Camat Panakukang, dan menduga jika Dewa pergi kepasar untuk bekerja.
Baca Juga : Pelaku Pembunuhan Bocah 10 Tahun Peragakan 35 Adegan, Sempat Beli Rokok untuk Tenangkan Diri
“Tidak masuk akal yang dia bilang, mana ada pasar toddopuli buka jam segitu, bahkan Adrian ini sempat membantu saya untuk cari Dewa,” ungkap kakek Dewa.
“Hampir juga dia dipukul langsung sama warga tapi saya suruh tahan, dan lanjut pergi mencari Dewa,” lanjut Jamaluddin.
Bahkan pelaku kedua bernama Faisal, berkunjung ke rumah Dewa untuk mengambil lembaran yang tertuliskan orang hilang atas nama Dewa.
Baca Juga : Orang Tua Pelaku Pembunuhan Bocah 10 Tahun di Makassar Hidup Terlantar dan Diasingkan Keluarga
“Itu yang pelaku kedua, sempat ke rumah ambil brosur, dia tanya ka mau bantu cari Dewa,” ucapnya.
Hari berganti, Senin 9 Januari 2023, keluarga baru melapor ke pihak berwajib, sang kakek bahkan masih berpikir jika cucunya pasti masih berada di suatu tempat harus segera dicari.
Malang menimpa keluarga mereka, Fadli Sadewa ditemukan di jalan inspeksi kanal Nipa-nipa tertanam ke dalam lumpur sedalam 2 meter berbungkus kresek hitam dengan bentuk plastik, dengan kondisi kaki diikat serta badan yang sudah menghitam.
Baca Juga : Dalami Aksi Perusakan Rumah Pelaku Pembunuhan Bocah 10 Tahun di Makassar, Polisi Sisa Tunggu Laporan
“Saya masuk di kamar mayat, saya tahu itu cucu saya yang memakai baju garis garis orange hijau, sampai sekarang kami di rumah tidak ada yang bisa makan karena membayangkan mayat dewa,” kata Aminah.
Cucu pekerja keras mereka benar-benar telah pergi meninggalkan mereka dengan cara yang tidak biasa dan membuat seluruh Indonesia mengetahui kepergiannya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News