PORTALMEDIA.ID, MAKASSAR - Jumlah anak penderita HIV di Kota Makassar cukup tinggi. Saat ini, tercatat 61 anak menderita HIV.
Direktur IU Yayasan Peduli Kelompok Dukungan Sebaya (YPKDS), Rachman Rahim, mengatakan, isu terkait HIV sangat sensitif untuk dibicarakan. Pemerintah dan semua stakeholder terkait masih harus bekerja keras untuk membuat masyarakat paham akan HIV.
"Saya yakin, kalau masyarakat kita sudah paham bagaimana proses penularannya, saya rasa stigma akan hilang dan temuan-temuan kasus itu tidak akan terjadi lagi. Banyak orang yang terinfeksi tidak tahu dan tidak mendapat informasi jika mereka melakukan aktivitas menyimpang dapat beresiko terkena HIV," ujarnya, di sela-sela peringatan Hari Anak Nasional, di Baruga Anging Mammiri Makassar, Sabtu, 23 Juli 2022.
Baca Juga : Antisipasi Penyebaran HIV, Pemda dan KPAK Bulukumba Segera Bertindak
Rachman mengungkapkan, IU YPKDS telah mendampingi 40 anak, dari 61 anak penderita HIV. "Alhamdulillah yang kami dampingi tetap survive karena dukungan dari Dinas Kesehatan Kota, karena kami selalu memastikan obat itu ada. Dan ada beberapa anak yang sudah masuk ke fase obat dewasa, yang artinya dengan adanya obat ini kualitas hidup adik-adik yang menderita HIV dapat dikatakan sehat," ungkapnya.
Ia menuturkan, tidak ada yang berbeda antara anak dengan HIV, dengan anak-anak lainnya. Mereka dapat beraktivitas, seperti sekolah, bergaul, bahkan bisa kuliah. "Dan memang dibutuhkan kerja sama terkait inovasi HIV," imbuhnya.
Selain anak dengan HIV, Rachman juga menyebut, ada perempuan yang terdampak HIV, namun anaknya negatif HIV. Hal ini merupakan hasil dari komitmen Dinas Kesehatan terkait penularan, pencegahan ibu ke anak.
Baca Juga : Dihadiri Menteri PPA Bintang Puspayoga, Peringatan Hari Anak Nasional Tingkat Sulsel Berlangsung Meriah
"Tetapi, isu terkait hak dasar anak adalah hal yang harus kami pastikan bahwa tidak ada anak yang menerima stigma diskriminasi pada saat dia di sekolah. Memang saat ini belum ada kasus di Kota Makassar, namun jika suatu saat nanti ada anak yang terbongkar status HIV nya, hal ini dapat menjadi kendala nantinya." terangnya.
Dengan adanya kegiatan ini, ia berharap tidak ada stigma diskriminasi pada anak yang terkena HIV, sebab mereka punya hak dasar untuk sekolah. Terkait akses kesehatannya, Rachman menyebut, tidak ada yang membedakan anak negatif HIV dan anak positif HIV.
"Yang membedakan hanya adanya virus dalam tubuh anak positif HIV, tetapi beraktifitas dengan anak lainnya tetap sama dan tidak ada yang membedakan. Jadi ini tanggung jawab kita bersama, bagaimana anak dengan HIV ataupun anak yang terlahir dari orangtua yang terpapar HIV tidak mendapat diskriminasi," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News