Oleh sebab itu, penting bahwa semua negara bekerja sama dengan komunitas laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (gay) guna merancang dan menyampaikan informasi dan layanan yang efektif. Dan, untuk mengadopsi langkah-langkah yang melindungi kesehatan, hak asasi manusia, dan martabat masyarakat yang terkena dampak.
Stigma dan diskriminasi bisa sama berbahayanya dengan virus apa pun. Selain rekomendasi WHO kepada negara-negara, Tedros juga menyerukan kepada organisasi masyarakat sipil, termasuk mereka yang berpengalaman dalam bekerja dengan orang yang hidup dengan HIV, untuk bekerja bersama WHO dalam memerangi stigma dan diskriminasi.
3. Pelacakan Kontak Tak Mudah
Dalam penetapan darurat kesehatan global yang diresmikan oleh WHO. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengungkapkan bahwa dapat menghentikan penularan dan mengendalikan wabah.
Baca Juga : Virus HMPV Melonjak di China, Kemenkes Imbau Warga Waspada
“Tetapi dengan alat yang kita miliki saat ini, kita dapat menghentikan penularan dan mengendalikan wabah ini,” pungkasnya.
Benjolan yang ada seharusnya membuat infeksi mudah diidentifikasi. Karena virus menyebar melalui kontak pribadi yang dekat, para pejabat berpikir mereka dapat melacak penyebarannya dengan mewawancarai orang yang terinfeksi dan menanyakan dengan siapa mereka berhubungan intim. Namun, ternyata tidak semudah itu.
Pelacakan kontak sering dihalangi oleh pria yang terinfeksi yang mengatakan bahwa mereka tidak tahu nama semua orang yang berhubungan seks dengan mereka. Beberapa melaporkan memiliki beberapa interaksi seksual dengan orang asing.
Baca Juga : Kemenag dan Kemenkes Susun Rencana Kebutuhan Obat dan Vaksin Haji 2025
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News