“Kemudian dalam hadits riwayat ahmad no 22.984, riwayat dari sahabat Buraidah RA, dikatakan bahwa Rasulullah beliau tidak pernah berangkat untuk mengerjakan idul Fitri kecuali sebelumnya makan dulu,” jelas Ustaz Adi Hidayat.
Hal ini berbanding terbalik dengan kebiasaan Rasulullah saat Hari Raya Idul Adha.
“Saat Idul Fitri, makan dulu baru jalan shalat, namun saat Idul Adha beliau berangkat tidak makan dulu, setelah pulang baru makan,” kata Ustaz Adi Hidayat.
Baca Juga : Kurban 26 Ekor Sapi Iduladha, Pemprov Sulsel Prioritaskan Warga Kurang Mampu
Maka saat Idul Fitri esok, hal ini sangat ditekankan untuk dilakukan sebelum berangkat ke masjid. Hal ini karena makanan pertama setelah puasa itu mengandung pahala.
“Saat Anda makan itu bukan sekedar ada nilai pahalanya tapi sekaligus memberikan pesan bahwa puasa sudah berakhir sekarang boleh makan lagi,” kata Ustaz Adi Hidayat.
“Saat Ramadhan nahan makan pertama kali itu ada pahalanya, saat Syawal makan pertama kali sebelum berangkat shalat itu ada pahalanya,” tambah Ustaz Adi Hidayat. Namun makan sebelum shalat tidak boleh yang berat. Setidaknya makan yang cepat habis agar dapat lekas pergi ke masjid untuk melaksanakan Shalat Idul Fitri.
Baca Juga : Taufan Pawe Ajak Muhammadiyah Jaga Keberagamaan Beragama di Parepare
Lantas bagaimanakah ukuran terjangkau yang dimaksud? “Artinya ketika sampai di tempat tujuan itu secara wajar. Datang ke tempat tanpa merasakan kesulitan, tidak terlampau penat dan lelah dan dalam keadaan itu bisa menunaikan shalat dengan tenang,” jelas Ustaz Adi Hidayat.
Namun jika dengan berjalan kaki Anda bisa ketinggalan shalat atau kesulitan dalam menjangkaunya hingga kemudian membuat shalat tidak khusyuk maka boleh dijangkau dengan kendaraan.
“Kedua dianjurkan untuk mengambil jalan lain saat pulang. Jadi masuk lewat jalan satu kembali lewat jalan yang kedua,” jelas Ustaz Adi Hidayat. Kebiasaan Rasulullah mengenai hal tersebut tertera dalam beberapa hadits. Salah satunya hadits dari Ibnu Umar radhiyallahu ta’ala anhuma terdapat di Al Hakim al-mustadrak nomor hadits 1.106.
Baca Juga : 5 Fakta Salat Id Berujung Tawuran di Makassar, Warga Bawa Busur dan Parang
“Saya bacakan nah ini punya Umar radhiyallahu ta’ala an humazin musala selanjutnya dikuatkan Abu Hurairah di riwayat Ahmad nomor hadis 8.435,” kata Ustaz Adi Hidayat.
“Bahkan di akhir Ramadhan para sahabat Nabi sering menangis karena khawatir setelah Ramadhan kebiasaan itu hilang dan yang paling ditakuti tidak mendapatkan ampunan Allah SWT,” jelas Ustaz Adi Hidayat.
“Karena haditsnya mengikat dari Rasulullah SAW, Sungguh celaka, jauh dari rahmat Allah, sangat tercela orang yang sudah sampai di Ramadhan tapi tak mampu diampuni oleh Allah SWT,” kata Ustaz Adi Hidayat.
Baca Juga : Ratusan Warga Padati Pelabuhan Paotere Laksanakan Salat Idulfitri 1444H/2023M
“Tangisi diri kita, ukurlah diri kita, apakah sudah dekat dengan Allah SWT dan apa berhasil. Setelah tenang nyaman ada perubahan bertakbirlah, seperti para sahabat Nabi, mereka keluar ketika mereka merasa berhasil menjalani Ramadhan, saat itulah Anda jadi pemenang di hadapan Allah SWT,” tandas Ustaz Adi Hidayat dikutip dari TVOne.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News