PORTALMEDIA.ID, MAKASSAR -- Pertujukan teater 10 orang penyadang disabilitas Makassar, hari kedua, di arena teater Gedung Kesenian Sulawesi Selatan, Societet de Harmonie, pada Minggu malam, 30 Juli 2023, sukses memukau para penonton.
Pementasan dengan naskah berjudul “Sepuluh Cerita-cerita di Atas Panggung” yang disutradarai oleh Syahrini Andriyani disaksikan oleh siswa dari Sekolah Luar Biasa (SLB) A Yapti Makassar, mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM), para pengajar, pegiat seni Sulsel dan umum.
Pementasan pertama, pada Jumat kemarin juga membawakan naskah yang sama. Namun pada pertunjukan kedua ini, tim pelaksana menggelar juga diskusi yang menghadirkan Syahrini Andriyani, salah satu seniman teater senior Sulsel, Ketua Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Sulsel, Marian Un dan pegiat seni Makassar, Irwan AR.
Baca Juga : KALLA Mulai Implementasikan ESG Pilar Sosial, Terima 7 Peserta Magang Disabilitas
Rini, sapaan Syahrini Andriyani mengatakan pementasan ini bagian dari hasil dari workshop Teater untuk Penyandang Disabilitas sebagai program dana Indonesiana Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan Nasional, kategori pendayagunaan ruang publik yang menyasar penerima dampak penyandang disabilitas.
Rini, menceritakan para aktor dan aktris teater disabilitas tersebut melakukan workshop sejak Sabtu, 22 Juli 2023 dan berlangsung hingga 10 hari berturut-turut.
"Untuk proses pertunjukan ini sendiri, luar biasa ya teman-teman disabilitas, kawan-kawan, adek-adek, sangat haru aku, sangat bangga kepada mereka. Praktis mereka itu (latihan) kurang lebih 10 jam, " kata Rini di atas panggung yang tak mampu membendung air matanya.
Baca Juga : Pemkot Makassar Fasilitasi Pelatihan untuk 22 Difabel, 9 Perusahaan Siap Rekrut
Dia mengatakan para peserta yang terdiri dari disabilitas low vision (netra), disabilitas intelektual ringan. sengau, OYPMK, dan little people ini menjalani latihan teknik-teknik keteateran hanya tiga hari sebelum hari H pementasan.
Sebelumnya mereka menerima materi seperti keaktoran, penyutradaraan, artistik dan manajemen produksi teater yang dibawakan kurang lebih empat hari juga.
"Sehari itu mereka latihan 2 jam, praktis mereka hanya latihan 10 jam kalau dihitung selama beberapa hari itu, " jelasnya.
Baca Juga : Danny-FKUB Tekankan Pentingnya Toleransi dan Perlindungan Anak, Perempuan serta Disabilitas
Menurutnya 10 jam itu tidak membuat mereka berkecil hati tapi justru bisa menampilkan hal yang begitu istimewa pada pementasan malam hari ini. "Jadi sekali lagi, teman-teman mari kita memberi apresiasi dan apluas kepada teman-teman kita 10 orang disabiltas di atas panggung, "
Rini juga menceritakan ihwal terciptanya naskah yang diungkapkan saat pementasan itu berangkat dari kisah-kisah mereka yang kompleks.
"Kurang lebih seminggu, mereka banyak bercerita tentang apa perjalanan mereka, bagaimana hambatan mereka, bagaimana kesedihan-kesedihan mereka, apa yang membuat mereka menjadi bahagia, cita-cita mereka, harapan mereka yang begitu komplek-kompleks. Kemudian hadirlah pertunjukan mereka 10 cerita-cerita di atas panggung, " ungkap aktor dan sutradara teater di Kala Teater ini.
Baca Juga : Gadis Disabilitas di Makassar Diperkosa saat Jualan Ikan Keliling, Polisi Tangkap Pelaku
Rini juga menyebutkan bila pengalaman kali pertamanya menyutradarai penyandang disabilitas dan begitu pun dengan para orang yang berkebutuhan khusus ini juga perdana dalam bermain teater.
"Ini adalah pengalaman pertama perjalanan mereka untuk ikut latihan teater belajar bersama kita. semoga ke dapannya kita masih bisa bersama-sama ya, menjadikan tempat ini sebagai tempat yang begitu istimewa, bisa juga di tempat lain, dimana saja, " kata Rini.
Ketua HWDI Sulsel, Maria Un juga sangat mengapresiasi tim penyelenggara, sutradara dan seniman senior Sulsel Djamal Dilaga yang turut menjadi instruktur workshop teater disabilitas ini.
Maria mengatakan pementasan yang tersaji malam itu adalah hasil pelatihan pertama yang dilaksanakan secara profesional. Meskipun, kata dia, bukan kali pertama penyandang disabilitas di Makassar bermaian teater.
"Berbicara seni, 2007 kami bersama kawan-kawan dari Gedung Kesenian ini juga pernah melakukan pertunjukan, ketika itu untuk memperingati hari (HUT) TVRI di gedung ini, " ujarnya.
Dia juga mengatakan penyandang disabilitas begitu banyak ragamnya dan membutuhkan proses latihan teater yang tidak mudah karena, kata Maria, masing-masing memiliki keunikan yang pendakatannya juga harus berdasarkan keunikan mereka.
"Ketika kita berbicara pelibatan penyandang disabilitas dalam setiap proses maka yang perlu dipertimbangkan adalah bagaimana kemudian menyediakan aksesibilitas dan akomdasi yang layak untuk membatu mereka untuk menjadikan mereka secara setara sama dengan yang lain, " kata Maria.
Dia mengapresiasi pelibatan interpreter bahasa isyarat dalam pementasan teater karena penting segala informasi dipahami oleh semua masyarakat termasuk disabilitas rungu atau tuli.
"Mulai dari pelatihan hari pertama sampai pada malam hari ini, Bapak Ibu dapat menyaksikan bahwa ada juru bahasa isyarat yang kemudian menterjemahkan setiap proses ini sehingga apa yang sedang kita lakukan ini kemudian informasinya bisa tersampaikan dan dipahami teman-teman disabilitas rungu atau kerapa disebut teman-teman tuli, "
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News