September selalu punya hubungan khusus dengan olahraga. Setiap 9 September, kita memperingati Hari Olahraga Nasional. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, olahraga sebenarnya sudah jauh melampaui perayaan seremonial. Ia masuk ke dalam keseharian kita.
Sore selepas kerja, orang berganti pakaian, mengenakan sepatu lari, menyalakan smartwatch, lalu berlari bersama komunitas. Aktivitas selesai, catatan Strava disimpan. Di beberapa sudut kota, bahkan sudah ada fotografer yang menunggu pelari melintas. Setelahnya, ada yang melanjutkan dengan makan atau minum kopi sambil mencari foto terbaik untuk diunggah ke media sosial.
Olahraga bukan lagi sekadar aktivitas fisik. Ia telah menjadi bagian dari gaya hidup.
Tidak ada yang salah dengan itu. Justru menyenangkan melihat olahraga semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Orang tidak harus memulai olahraga dengan alasan kesehatan yang muluk. Ada yang ikut karena teman, penasaran dengan running club, ingin menurunkan berat badan, mengejar target tertentu, atau bahkan sekadar ingin punya foto lari yang bagus.
Semua bisa menjadi pintu masuk.
Apalagi, pekerjaan rumah kita dalam soal aktivitas fisik memang masih besar. Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan 37,4 persen penduduk usia 10 tahun ke atas berada dalam kategori kurang aktivitas fisik. Dari kelompok yang kurang aktif tersebut, 48,7 persen menyebut tidak memiliki waktu sebagai alasan utama.
Di sinilah persoalannya menjadi sedikit lebih rumit.
Kita sering menyelesaikan masalah “kurang bergerak” dengan satu nasihat sederhana: sempatkan olahraga. Padahal, bagi banyak orang, hari sudah penuh sejak pagi. Bekerja, menghadapi perjalanan, mengurus keluarga, belum lagi pekerjaan yang masih mengikuti lewat telepon genggam.
Olahraga kemudian ditempatkan pada satu-satunya ruang yang tersisa: selepas kerja.
Tidak ada masalah dengan berolahraga sore atau malam. Bagi sebagian orang, justru itulah pilihan yang paling realistis. Yang perlu dipikirkan adalah ketika hidup sehat akhirnya hanya berarti menambahkan satu aktivitas lagi ke dalam hari yang sebenarnya sudah terlalu padat.
Catatan ini tentu bukan alasan untuk berhenti bergerak. Justru sebaliknya. Kalau alasan terbesar kita adalah keterbatasan waktu, jalan keluarnya bukan selalu menambah jadwal, melainkan mengubah cara gerak itu masuk ke dalam keseharian.
Polanya mungkin terasa akrab.
Pulang kerja dalam keadaan lelah, tetapi tetap berlari karena target mingguan belum tercapai. Selesai berolahraga pukul sembilan malam, dilanjutkan makan atau nongkrong, mungkin ditemani kopi. Sampai di rumah, masih membuka ponsel atau menyelesaikan pekerjaan. Tidur lewat tengah malam, lalu esok pagi semuanya dimulai lagi.
Dari luar, hidup itu terlihat aktif. Tetapi tubuh tidak hanya membutuhkan aktivitas. Ia juga membutuhkan pemulihan.
Dalam olahraga, bahkan atlet tidak berlatih tanpa henti. Ada pengaturan beban, tidur, dan waktu istirahat. Agak ironis jika kita mengambil semangat latihannya, tetapi melupakan bagian pemulihannya.
Karena itu, hidup sehat di tengah kesibukan mungkin tidak selalu membutuhkan tambahan jadwal baru. Kita justru bisa mulai dengan membuat gerak menjadi bagian dari keseharian: berjalan ketika ada kesempatan, memilih tangga, berdiri setelah terlalu lama duduk, atau menempuh jarak pendek dengan berjalan kaki.
WHO sendiri menegaskan bahwa melakukan sedikit aktivitas tetap lebih baik daripada tidak sama sekali. Anjuran 150 sampai 300 menit aktivitas fisik per minggu bagi orang dewasa juga tidak harus ditempuh dalam satu sesi panjang.
Dengan begitu, seluruh kebutuhan bergerak tidak dibebankan pada satu jam setelah pulang kerja.
Kita juga tidak harus berlatih dengan intensitas yang sama setiap hari. Ada hari ketika tubuh siap berlari lima atau sepuluh kilometer. Ada hari ketika berjalan santai sudah cukup.
Target di smartwatch atau Strava sebaiknya membantu kita memahami kebiasaan, bukan membuat kita merasa gagal ketika tubuh memang membutuhkan istirahat.
Hal-hal sederhana juga jangan sampai kalah oleh hal-hal yang lebih menarik untuk dibicarakan.
Minum air putih yang cukup sepanjang hari, misalnya. Sesederhana itu, tetapi mudah terlupakan ketika pekerjaan menumpuk dan kopi selalu lebih mudah menjadi teman di meja kerja.
Kopi bukan musuh. Bagi banyak orang, kopi adalah bagian dari rutinitas dan pertemanan. Yang perlu diperhatikan justru letaknya dalam satu hari. Kafein bekerja dengan menunda sinyal kantuk, bukan menghapus rasa lelah. Secangkir kopi pukul sembilan malam bisa membuat kita bertahan lebih lama, tetapi juga berpotensi mendorong jam tidur semakin mundur.
Padahal, tidur adalah bagian dari pemulihan yang tadi kita bicarakan.
Menariknya, gaya hidup sehat hari ini juga semakin mudah didokumentasikan. Kita bisa melihat jarak tempuh, pace, rute, detak jantung, foto saat berlari, hingga respons teman setelah aktivitas diunggah.
Semua itu bisa menyenangkan dan bahkan membantu menjaga motivasi.
Tetapi kesehatan tidak selalu hadir dalam bentuk yang bisa dicatat aplikasi atau dibagikan ke media sosial.
Memilih berjalan santai karena badan sedang lelah, minum air putih alih-alih menambah kopi, tidur lebih awal, atau mengambil satu hari tanpa latihan juga merupakan bagian dari menjaga tubuh.
Barangkali, yang perlu kita jaga bukan hanya konsistensi untuk terus bergerak, tetapi juga kepekaan untuk membaca kapan tubuh membutuhkan aktivitas dan kapan ia membutuhkan jeda.
Momentum Hari Olahraga Nasional tentu tetap perlu menjadi ajakan agar lebih banyak orang bergerak. Tetapi ajakannya mungkin tidak harus berhenti pada “ayo berolahraga”.
Kita juga perlu belajar menjalani hidup aktif dengan lebih masuk akal.
Bergeraklah selama hari kerja. Berolahragalah sesuai kondisi tubuh. Minum air yang cukup. Nikmati kopi tanpa menjadikannya alat untuk terus menunda rasa lelah. Gunakan teknologi sebagai pendamping, bukan penentu.
Dan ketika tubuh meminta istirahat, dengarkan.
Sebab, hidup sehat bukan tentang seberapa banyak aktivitas yang bisa kita masukkan ke dalam 24 jam.
Ada hari ketika sehat berarti berlari. Ada hari ketika sehat berarti berjalan. Ada pula hari ketika keputusan paling sehat justru pulang lebih cepat, minum segelas air, meletakkan ponsel, lalu tidur cukup.
Tubuh tidak hanya membutuhkan kesempatan untuk bergerak.
Tubuh juga membutuhkan izin untuk berhenti.