PORTALMEDIA.ID, MAKASSAR -- Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana memastikan setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) akan bertanggujawab apabila ada murid penerima manfaat yang keracunan usai menyantap makan bergizi gratis (MBG). Ia mengatakan biaya pengobatan akan ditanggung oleh SPPG terkait.
"Nanti (anak yang sakit setelah menyantap MBG) di-handle sama kepala satuan pelayanan," ujar Dadan di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (28/2/2025).
Dadan menjelaskan setiap SPPG memiliki anggaran bahan baku dan operasional. Nantinya, SPPG akan menggunakan dana operasional untuk menangani apabila siswa yang sakit.
Baca Juga : Bupati Pinrang Minta Sekolah Ikut Awasi Program MBG
"Biaya operasional di satuan pelayanan itu, sifatnya add cost untuk menanggulangi hal-hal yang seperti itu," ucapnya.
Ia pun memastikan akan senantiasa mengevaluasi pelaksanaan MBG akan di setiap daerah agar tak menimbulkan masalah.
Dadan menyatakan BGN akan terus berupaya menjaga kualitas MBG, sehingga tidak ada keluhan dari penerima manfaat ke depannya.
Baca Juga : 3.569 Siswa Puasa MBG Imbas Penutupan SPPG Panakkukang 02
Diketahui, belasan murid di tiga sekolah di Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar diduga keracunan usai mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Takalar, Nilal Fauziah, mengatakan insiden itu terjadi di tiga sekolah yakni SD Kapunrengan, SD Bonto Ba'do, dan SD Lengkese.
"Kejadian ini di 3 SD, yakni di SD Kapunrengan 10 siswa, SD Bonto Ba'do 1 orang dan SD Lengkese 1 orang siswa," katanya di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, Rabu, (26/2/2025).
Baca Juga : Rakor Bersama Mendagri, Munafri Pastikan Pelaksanaan MBG Penuhi Standar Gizi
Dia mengatakan kejadian ini tidak bersifat massal seperti yang beredar karena katanya jumlah siswa atau anak yang diberi makanan secara bersamaan itu ada sebanyak 97 orang. "Jadi tidak massal sifatnya. Karena jumlah anak yang di berikan makanan ada 97 orang," jelasnya.
Menu yang diberikan saat itu atau pada MBG di masing-masing sekolah yakni nasi, ikan, tahu, sayur, dan pisang. Semua jenis makanan yang dikonsumsi siswa sementara dalam pemeriksaan.
"Jadi kita belum bisa memastikan apakah dari sumber makanan karena korbannya tidak massal. Artinya banyak kemungkinan. Termasuk bisa saja berasal dari air minum yang sebagian besar dibawa anak anak dari rumahnya," jelasnya.
Baca Juga : Tanya Kasus MBG ke Presiden Prabowo, Istana Cabut Kartu Liputan Wartawan CNN
Sementara Sekda Takalar, Muhammad Hasbi, meminta kepada seluruh masyarakat Takalar untuk tidak panik menyikapi informasi ini. Pihaknya meminta agar mempercayakan hal ini ke pemerintah.
"Kami himbau masyarakat tidak panik. Ini kejadian pertama dan tidak massal. Percayakan kepada pemerintah untuk menangani hal ini. Kami yakinkan, program ini demi perbaikan asupan gizi untuk anak-anak kita," ungkapnya.(*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News