PORTALMEDIA.ID, LUTIM - Dari jejeran gunung yang menjulang tinggi di Kecamatan Wasuponda, Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Tampak satu wilayah yang menarik perhatian begitu dalam. Bukan karena area yang tandus, melainkan karena deretan pohon nanas yang tumbuh subur di wilayah tersebut, Desa Tabarano.
Desa Tabarano menjadi bukti bahwa bencana alam tak selamanya merugikan, jika dikelola dengan baik dan didukung oleh pihak yang menginginkan kemajuan.
Kepala Desa Tabarano, Rimal Manuk Allo mengatakan, kehadiran kebun nanas ini terinspirasi dari kerusakan hutan akibat El Nino, yang telah mengubah bencana menjadi peluang dengan mengembangkan kebun nanas yang kini menjadi salah satu objek wisata di Luwu Timur.
Baca Juga : Produksi Saprolit Bahodopi Melejit 90 Persen, PT Vale Tatap Optimisme di 2026
"Saat El Nino melanda, tanah kering dan retak-retak. Itu yang membuat kami (Kepala Desa, Warga, PT Vale) berpikir untuk menjadikan lahan ini lebih berguna dengan berkolaborasi untuk menanam nanas—tanaman yang dikenal tahan banting terhadap cuaca ekstrem,"ungkap Rimal.
Menurut Rimal, PT Vale telah banyak membantu desa Tabarano — salah satunya dengan memfasilitasi kegiatan penyadartahuan dari pihak yang berkompeten dalam budidaya dan pengelolaan nanas.

Baca Juga : Kinerja Solid 2025: Laba Bersih PT Vale Melonjak 32 Persen di Tengah Tantangan Pasar
“Kawasan perkebunan hortikultura nanas ini, bisa membantu warga kami yang masuk dalam kategori rumah tangga miskin. Ada 15 warga yang kami pekerjakan, dan rencananya kami akan semakin memperluas wilayah ini,"ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News